Semua Mata di Dunia Tertuju ke "Mulut" Trump Jam 9 Hari Ini, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Semua mata di dunia akan tertuju ke pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump hari ini, Selasa pukul 21.00 malam waktu setempat atau Rabu (25/2/2026) pukul 09.00 WIB. Trump akan berpidato dihadapkan sidang gabungan Kongres di Gedung Capitol di Washington DC, di depan para pembuat undang-undang terkemuka negara itu, hakim Mahkamah Agung (MA) dan para pemimpin militer.
Ya, Presiden 79 tahun itu, akan menyampaikan Pidato Kenegaraan disebut juga "State of the Union Speech", yang kemungkinan menguraikan apa yang menurutnya "pencapaian tahun pertamanya menjabat dan agenda kebijakan ke depan". Pidato disampaikan menjelang pemilihan paruh waktu di negara itu, pada November ini.
State of the Union Speech merujuk pada Konstitusi AS bahwa presiden dari waktu ke waktu harus memberikan kepada Kongres informasi tentang Keadaan Negara, dan merekomendasikan kepada mereka pertimbangan langkah-langkah yang menurutnya perlu dan tepat. Dalam beberapa dekade terakhir, pidato ini telah menjadi salah satu acara media utama dalam kalender politik AS.
Tahun ini, tanggapan dari partai oposisi akan disampaikan oleh Gubernur Virginia dari Partai Demokrat, Abigail Spanberger. Perlu diketahui, dalam beberapa tahun terakhir, pidato ini menghasilkan beberapa momen yang tak terlupakan seperti ketika Ketua DPR saat itu, Nancy Pelosi, merobek pidato Trump menjadi dua pada tahun 2020 seraya menyebutnya "kebohongan".
Apa yang Akan Trump Bicarakan?
Merujuk CNN International, tahun ini tema pidato resmi Trump adalah "Amerika di Usia 250 Tahun: Kuat, Makmur, dan Dihormati". Trump diperkirakan akan berargumen bahwa ia telah mengantarkan era baru kemakmuran Amerika selama tahun pertama masa jabatan keduanya.
Ia diyakini akan mengungkit kisah-kisah spesifik dari warga Amerika biasa yang mengatakan bahwa "kebijakan presiden telah membantu mereka". Ia juga akan menawarkan proposal baru yang bertujuan untuk menurunkan biaya hidup warga.
Hal tersebut sebenarnya tercantum di draf tertulis pidatonya. Namun, melihat kebiasaan Trump, ia kemungkinan tak akan mengikuti draf yang sudah dibuat.
Intinya seharusnya State of the Union Speech lebih berfokus ke ekonomi Paman Sam. Tapi sebagian pengamat menilai mungkin Trump justru akan membawanya ke arah lain, termasuk penindakan imigrasi dan keluhan-keluhan tentang orang-orang yang tidak disukainya.
Jikalau Trump fokus ke ekonomi, ia juga dikhawatirkan membanggakan hal-hal yang subjektif saat memaparkan itu. Padahal pendekatan ini, sudah diperingatkan beberapa penasihat dari partainya Partai Republik, berisiko mencitrakan dirinya "meremehkan kekhawatiran ekonomi warga Amerika".
Merujuk draf pidatonya yang telah disusun, ia seharusnya menyebut soal inisiatif penghematan biaya, termasuk menurunkan harga obat resep dan memotong pajak warga AS. Namun banyak warga Amerika masih mengatakan bahwa "ekonomi tidak berjalan baik bagi mereka", hal yang kini menjadi ujian bagi Trump di dalam negeri.
Tarif yang Dibatalkan MA AS
Perlu diketahui empat hari sebelumnya, MA AS memberikan pukulan telak bagi Trump. Salah satu pilar agendanya, yakni tarif, dibatalkan.
Tarif telah ia gunakan sebagai senjata berpengaruh di seluruh dunia. Baik dalam perdagangan maupun kebijakan luar negerinya yang lebih luas.
Dalam keputusannya, MA mengatakan dasar hukum yang dipakai tarif resiprokal Trump, International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) 1977, adalah melampaui kewenangannya. Aturan ini merujuk ke pemberian kewenangan Presiden mengatur perdagangan saat terjadi keadaan darurat nasional.
Meski begitu, Trump sendiri bersikeras bahwa ia memiliki opsi cadangan. Ia telah mengumumkan akan menerapkan tarif global 15% menggunakan otoritas yang berbeda meski belum teruji.
Namun demikian, keputusan tersebut hanya berlaku 150 hari. Lalu Minggu, Bea Cukai sudah menyetop penarikan tarif barang yang masuk ke AS dari seluruh dunia.
Sebenarnya, salah satu masalah utama bagi Trump yang muncul dari putusan MA adalah serangkaian kebijakan yang direncanakan akan dibiayai oleh tarif. Itu termasuk dana talangan sebesar US$12 miliar (Rp 202 triliun) untuk petani yang diumumkan tahun lalu dan cek diskon US$2.000 (Rp 33,7 juta) untuk warga Amerika, yang waktunya tidak pernah diumumkan.
Perang AS-Iran
Kemungkinan serangan AS ke Iran juga akan jadi sorotan. Beberapa minggu terakhir Trump kerap mengancam akan menyerang negeri itu, jika pembicaraan yang hingga kini masih berlangsung soal penghentian program nuklir Iran, tak mulus.
Peningkatan kekuatan militer besar-besaran di sekitar Iran sudah dilakukan. Reuters melaporkan citra satelit menunjukkan penambahan armada tempur AS di sejumlah pangkalan militer Timur Tengah dan Samudra Hindia.
Dalam State of the Union Speech ini, Trump harus menjelaskan kepada rakyat Amerika apa yang mungkin membenarkan konflik yang berkepanjangan itu bisa terjadi. Tapi, analis menilai pidato kenegaraan ini kemungkinan tak akan digunakan Trump untuk menyampaikan argumen soal ini.
Dilaporkan bagaimana para penasihatnya telah merencanakan pidato yang sebagian besar bersifat domestik. Dalam jajak pendapat CNN, International hanya 2% responden yang mengatakan mereka ingin mendengar dari presiden tentang kebijakan luar negeri dalam pidatonya, angka terendah dari semua isu.
Meski begitu, perubahan bisa saja terjadi. Trump mungkin akan menguraikan beberapa pemikirannya tentang Iran selama pidatonya, karena ia memang mempertimbangkan serangan baru di negara tersebut.
Ancaman perang Trump sebenarnya telah menimbulkan pertanyaan tentang otoritas mana yang akan diandalkan sang Presiden untuk melakukan serangan baru terhadap para pemimpin atau fasilitas Iran. Ia belum melakukan upaya formal apa pun untuk mendapatkan dukungan dari Kongres, yang memegang wewenang konstitusional untuk menyatakan perang.
Selain Iran, mengutip BBC International, mungkin juga ia akan menyinggung serangan AS ke Venezuela. Januari lalu, ia mengerahkan pasukan AS menculik dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, lalu membawanya ke Pengadilan New York.
Pidato 2025
Sebenarnya jika merujuk pada pidato terakhir Trump di Kongres AS pada Maret 2025, serupa tetapi secara teknis bukan pidato Kenegaraan, ia berbicara tentang perang di Ukraina, keinginannya untuk mengambil alih Greenland, dan janji untuk menurunkan pajak "untuk semua orang" Amerika.
Setahun yang lalu, Trump mencetak rekor pidato terpanjang yang pernah disampaikan oleh seorang presiden kepada sidang gabungan Kongres, berbicara selama satu jam 40 menit. Ia mengalahkan rekor mantan Presiden Bill Clinton selama satu jam 28 menit.
(sef/sef) Add
source on Google