Internasional

Iran Siaga 1 Perang Lawan AS, Borong Rudal Supersonik China

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Rabu, 25/02/2026 12:20 WIB
Foto: Para prajurit Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) mengibarkan bendera China di samping model kendaraan militer yang membawa rudal anti-kapal, selama acara peringatan 70 tahun berdirinya Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok, 23 April, di museum angkatan laut di Qingdao, provinsi Shandong, China, 13 April 2019. (via REUTERS/CHINA STRINGER NETWORK)

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dilaporkan tengah berada di ambang kesepakatan dengan China untuk pembelian rudal jelajah antikapal supersonik di tengah meningkatnya ketegangan militer dengan Amerika Serikat (AS). Langkah ini dilakukan saat Washington mengerahkan kekuatan angkatan laut besar-besaran di dekat pesisir Iran sebagai persiapan menghadapi kemungkinan serangan terhadap negara tersebut.

Menurut enam sumber yang memahami negosiasi ini, kesepakatan untuk rudal CM-302 buatan China tersebut hampir selesai, meskipun tanggal pengiriman belum disepakati. Rudal supersonik ini memiliki jangkauan sekitar 290 kilometer dan dirancang untuk menghindari pertahanan kapal perang dengan terbang rendah serta sangat cepat.

Dua pakar senjata menyatakan bahwa pengerahan rudal ini akan secara signifikan meningkatkan kemampuan serang Iran. Ini menjadi ancaman serius bagi pasukan angkatan laut AS di kawasan.


Negosiasi sistem persenjataan rudal ini sejatinya telah dimulai setidaknya dua tahun lalu namun mengalami percepatan tajam setelah perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu. Tiga pejabat yang mendapat arahan dari pemerintah Iran dan tiga pejabat keamanan menyebutkan bahwa pembicaraan memasuki tahap akhir musim panas lalu, ditandai dengan kunjungan pejabat senior militer Iran, termasuk Wakil Menteri Pertahanan Massoud Oraei ke China.

"Ini adalah pengubah permainan (gamechanger) yang lengkap jika Iran memiliki kemampuan supersonik untuk menyerang kapal-kapal di area tersebut. Rudal-rudal ini sangat sulit untuk dicegat," kata Danny Citrinowicz, mantan perwira intelijen Israel yang kini menjadi peneliti senior Iran di Institute for National Security Studies, kepada Reuters, (24/2/2026).

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan jumlah unit rudal yang terlibat dalam kesepakatan tersebut atau nilai kontrak yang disetujui. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran memberikan sinyalemen positif mengenai kerja sama pertahanan ini kepada Reuters.

"Iran memiliki perjanjian militer dan keamanan dengan sekutu-sekutunya, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan perjanjian tersebut," ujar pejabat Kementerian Luar Negeri Iran tersebut.

Di sisi lain, pemerintah China memberikan respons yang lebih tertutup. Dalam pernyataan susulan setelah laporan ini mencuat, Kementerian Luar Negeri China menyatakan ketidaktahuan mereka atas pembicaraan mengenai potensi penjualan rudal tersebut.

"Kementerian tidak mengetahui adanya pembicaraan tentang potensi penjualan rudal yang dilaporkan," tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China.

Pihak Gedung Putih juga tidak secara langsung menanggapi rincian negosiasi antara Iran dan China. Namun, seorang pejabat Gedung Putih menegaskan posisi tegas Presiden Donald Trump yang memberikan tenggat waktu kepada Teheran.

"Presiden Donald Trump telah menegaskan bahwa pilihannya hanya kita akan mencapai kesepakatan atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras seperti terakhir kali," ungkap pejabat Gedung Putih tersebut merujuk pada ketegangan saat ini.

Rudal CM-302 akan menjadi perangkat keras militer paling canggih yang pernah ditransfer oleh China ke Iran, sekaligus menantang embargo senjata PBB yang kembali diberlakukan September lalu. Penjualan ini dinilai akan memperumit upaya AS dalam membatasi program rudal dan nuklir Iran, serta menandakan keinginan China untuk menegaskan pengaruhnya di wilayah yang selama ini didominasi militer AS.


Dukungan China ke Iran

Dukungan diplomatik China terhadap Iran juga terlihat saat Presiden Xi Jinping menjamu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Beijing pada September lalu. Dalam pertemuan tersebut, Xi memberikan jaminan dukungan politik yang kuat.

"China mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, integritas wilayah, dan martabat nasional," kata Xi Jinping kepada pemimpin Iran tersebut.

Keterlibatan China dalam memperkuat pertahanan Iran dipandang oleh sejumlah pihak sebagai bentuk persaingan geopolitik yang lebih luas. Iran kini dianggap sebagai titik temu perseteruan antara kekuatan besar dunia.

"Iran telah menjadi medan pertempuran antara AS di satu sisi dengan Rusia dan China di sisi lain," ujar salah satu pejabat yang menerima pengarahan mengenai negosiasi rudal tersebut.

Pengerahan rudal ini terjadi saat AS mengumpulkan armada tempur dalam jarak serang ke Iran, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford yang membawa ribuan personel dan ratusan pesawat. Danny Citrinowicz menambahkan bahwa China memiliki kepentingan strategis untuk menjaga stabilitas rezim yang ada saat ini di Teheran.

"China tidak ingin melihat rezim pro-Barat di Iran. Itu akan menjadi ancaman bagi kepentingan mereka. Mereka berharap rezim ini akan tetap bertahan," tambah Citrinowicz.

Langkah Iran memperbarui sistem senjatanya juga didorong oleh kondisi arsenal mereka yang mulai menipis pasca konflik tahun lalu. Pieter Wezeman, peneliti senior di Stockholm International Peace Research Institute, menyebut pembelian CM-302 sebagai peningkatan signifikan bagi Iran.

"Sistem persenjataan ini dapat dipasang pada kapal, pesawat, atau kendaraan darat bergerak, bahkan mampu menenggelamkan kapal induk atau kapal perusak," jelas keterangan dalam pemasaran produk tersebut oleh China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC).

Selain rudal antikapal, sumber menyebutkan bahwa Iran juga sedang berdiskusi untuk memperoleh sistem rudal permukaan-ke-udara, senjata anti-balistik, hingga senjata anti-satelit dari China. Meski China sempat mengurangi transfer senjata skala besar ke Iran pada akhir 1990-an karena tekanan internasional, hubungan militer kedua negara kini kembali memanas seiring dengan ketegangan global yang meningkat.


(tps/sef/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Iran Klaim "Prinsip Panduan" Disepakati dengan AS