MARKET DATA
Internasional

Tamparan Keras Buat Trump, Zelensky Blak-blakan Bilang Begini

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
15 February 2026 21:00
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan beberapa pemimpin tinggi Eropa di Gedung Putih, Washington, D.C., AS, Senin (18/8/2025).  (REUTERS/Kevin Lamarque)
Foto: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan beberapa pemimpin tinggi Eropa di Gedung Putih, Washington, D.C., AS, Senin (18/8/2025). (REUTERS/Kevin Lamarque)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky berharap agar perundingan damai dengan Rusia yang dimediasi Amerika Serikat (AS) bisa menghasilkan pembahasan yang benar-benar berarti. Namun, dia menegaskan bahwa Ukraina sudah terlalu sering diminta untuk memberikan konsesi.

Zelensky mengkritik cara Washington menangani pembicaraan damai yang dijadwalkan di Jenewa minggu depan di tengah tekanan Presiden AS Donald Trump untuk segera mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

Selain itu, Zelensky menuding Moskow sengaja memperlambat proses pengambilan keputusan dengan mengganti negosiator utamanya.

Perwakilan dari Ukraina, Rusia, dan AS dijadwalkan akan bertemu di kota tepi danau di Swiss pada Selasa dan Rabu pekan depan. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah upaya Presiden AS, Donald Trump, yang mendorong tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang terbesar di Eropa sejak 1945.

Dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich tahunan, Zelensky mengatakan harapannya agar pertemuan trilateral pekan depan berjalan dengan serius, substantif, dan membawa manfaat bagi semua pihak. Namun, ia juga mengakui bahwa terkadang terasa seolah-olah masing-masing pihak membicarakan hal yang sama sekali berbeda.

"Kami benar-benar berharap bahwa pertemuan trilateral minggu depan akan serius, substantif, bermanfaat bagi kita semua, tetapi sejujurnya, terkadang rasanya seperti kedua belah pihak berbicara tentang hal-hal yang sama sekali berbeda," kata Zelenskyy dilansir Channel News Asia, Minggu (15/2/2026).

Zelensky Ungkap AS Banyak Ucapan, Tak Ada Tindakan

Ukraina dan Rusia telah terlibat dalam dua putaran pembicaraan baru-baru ini yang ditengahi oleh Washington di Abu Dhabi. Mengingat, Rusia dan Ukraina telah menginvasi tetangganya pada Februari 2022.

Zelensky menyerukan tindakan yang lebih besar dari sekutu Ukraina untuk menekan Rusia agar berdamai, baik dalam bentuk sanksi yang lebih keras maupun lebih banyak pasokan senjata.

Mengingat permohonannya empat tahun lalu, Zelensky mengatakan ada terlalu banyak pembicaraan oleh para pejabat Barat dan tidak cukup tindakan.

Menurutnya, Trump memiliki kewenangan untuk menekan Vladimir Putin agar mengumumkan gencatan senjata, dan hal itu perlu segera dilakukan. Pejabat Ukraina menyebut gencatan senjata sebagai syarat untuk menggelar referendum terkait kesepakatan damai, yang rencananya akan dilaksanakan bersamaan dengan pemilu nasional.

Zelensky mengakui ia merasakan sedikit tekanan dari Trump. Sehari sebelumnya, Trump menyatakan bahwa Zelensky tidak seharusnya melewatkan "kesempatan" untuk segera mencapai perdamaian dan mendesaknya agar segera mengambil langkah.

Zelensky juga menyoroti bahwa pihak AS kerap kembali membahas soal konsesi, namun terlalu sering hal itu hanya dikaitkan dengan Ukraina, bukan Rusia.

Terkait perundingan, Zelensky menegaskan ia ingin mengetahui kompromi apa yang bersedia ditawarkan Moskow, mengingat Ukraina sudah banyak memberikan konsesi.

Sementara itu, Rusia menyatakan delegasinya ke Jenewa akan dipimpin penasihat Putin, Vladimir Medinsky. Penunjukan ini berbeda dari perundingan sebelumnya di Abu Dhabi, ketika tim Rusia dipimpin oleh kepala intelijen militer, Igor Kostyukov.

Zelensky mengatakan kepada wartawan pada hari Sabtu bahwa perubahan itu "mengejutkan" bagi Ukraina, dan menyarankan kepadanya bahwa Rusia ingin menunda keputusan apa pun agar tidak disetujui.

Pejabat Ukraina telah mengkritik penanganan Medinsky atas pembicaraan sebelumnya, menuduhnya memberikan pelajaran sejarah kepada tim Ukraina alih-alih terlibat dalam negosiasi.

Kebuntuan atas wilayah

Dalam konferensi pers pada Sabtu, Zelensky menyampaikan bahwa negosiator AS memberi tahu pihaknya mengenai janji Rusia untuk segera mengakhiri perang, dengan syarat pasukan Ukraina mundur dari wilayah Donetsk yang masih mereka kuasai.

Ia juga mengatakan sebelumnya bahwa dirinya bersedia mempertimbangkan usulan AS untuk membentuk zona perdagangan bebas di kawasan tersebut, sambil membekukan sisa garis depan sepanjang sekitar 1.200 kilometer.

Sementara itu, kepala negosiator Ukraina Rustem Umerov menegaskan bahwa hanya ada dua opsi: Ukraina mempertahankan garis kontrol saat ini, atau membentuk zona ekonomi bebas.

Rusia saat ini menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, termasuk Semenanjung Krimea serta sebagian kawasan Donbas di wilayah timur, yang telah direbut bahkan sebelum invasi besar-besaran dilancarkan pada 2022.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Zelensky Ngamuk, 300 Drone Ukraina Tembak Rusia


Most Popular
Features