CLOSE AD
MARKET DATA
Economic Outlook 2026

Pertumbuhan Industri Mamin Melambat, Bos Pengusaha Ungkap Deret PR Ini

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
12 February 2026 18:20
Ketua Umum Gapmmi, Adhi S. Lukman saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Ketua Umum Gapmmi, Adhi S. Lukman saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri makanan dan minuman (mamin) masih mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata ekonomi nasional. Namun, ketergantungan terhadap impor bahan baku dinilai menjadi tantangan utama yang perlu segera dibenahi jika sektor ini ingin berkontribusi lebih besar terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). Menurutnya, industri makanan dan minuman memiliki karakter yang relatif stabil karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.

Di sisi lain, Adhi mengakui, pertumbuhan industri makanan dan minuman olahan nasional saat ini belum mencapai titik ideal. Bahkan, masih di bawah pencapaian sebelum Pandemi Covid-19.

"Tentunya saya bisa pastikan semua orang butuh makan, tidak ada orang tidak butuh makan. Dan para ekonom bilang industri makanan paling resilience, karena kebutuhan," kata Adhi, dikutip Kamis (12/2/2026).

Adhi mengutip data BPS yang mencatat, industri makanan dan minuman berkontribusi sekitar sepertiga dari kebutuhan makanan dan minuman penduduk Indonesia. Tak hanya itu, kinerjanya juga melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia mencatat, sepanjang tahun lalu industri mamin tumbuh 6,38%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,11%, serta di atas pertumbuhan industri manufaktur yang tercatat 5,15%.

Meski demikian, capaian tersebut dinilai masih belum ideal. Pasalnya, sebelum pandemi Covid-19, pertumbuhan industri mamin mampu berada di kisaran 7% hingga 9%.

"Kita masih jauh dari cita-cita atau target kita. Padahal sebelum pandemi pertumbuhan kita di atas 7-9%. Ini tentunya seharusnya bisa mendukung target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan Bapak Presiden tahun 2029," ujarnya.

Menurut Adhi, tantangan terbesar industri mamin saat ini terletak pada ketergantungan impor bahan baku. Pertumbuhan sektor hulu di dalam negeri dinilai masih jauh lebih lambat dibandingkan sektor hilir.

"Bahan baku kita ini sangat tergantung dengan impor. Dalam negeri kita, pertumbuhan di hulu masih jauh lebih lambat dibandingkan sektor hilir. Ini yang menjadi tantangan kita bersama," ucap dia.

Ia menilai pemberdayaan sektor hulu, mulai dari petani, peternak, hingga nelayan, menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat ketahanan industri nasional.

Di sisi lain, gejolak global seperti konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga kebijakan perdagangan luar negeri turut memperberat tekanan terhadap industri.

"Begitu ada gejolak, harga naik, logistik naik, supply chain terganggu, waktu terganggu. Belum lagi peraturan-peraturan di luar negeri yang menjadi tantangan kita dalam pemenuhan bahan baku," jelas Adhi.

Gapmmi juga mengingatkan, kewajiban menjaga ketersediaan bahan baku industri sejatinya telah diatur dalam Undang-Undang Perindustrian Nomor 3 Tahun 2014, khususnya Pasal 33, yang mewajibkan pemerintah pusat dan daerah menjamin pasokan bahan baku dan sumber daya industri.

Adhi menekankan, jika pemerintah serius mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, maka industri manufaktur, termasuk makanan dan minuman, harus menjadi prioritas utama.

Pasalnya, industri manufaktur berkontribusi sekitar 19% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan memiliki daya serap tenaga kerja yang besar.

"Pertumbuhan ekonomi 1% itu rata-rata bisa menyerap 300-400 ribu tenaga kerja. Oleh sebab itu, kondisi ini harus dijaga. Kalau tidak, kita akan sulit mencapai pertumbuhan ekonomi tersebut," pungkasnya.

Ketua Umum Gapmmi, Adhi S. Lukman saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Foto: Ketua Umum Gapmmi, Adhi S. Lukman saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Ketua Umum Gapmmi, Adhi S. Lukman saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

(dce)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Mau Dibasmi! Modus Tipu-Tipu Rafinasi Disulap Gula Konsumsi Terungkap


Most Popular
Features