CLOSE AD
MARKET DATA

Lewat Proyek Ini, INALUM Buktikan Komitmen Perkuat Hilirisasi Mineral

Elga Nurmutia,  CNBC Indonesia
11 February 2026 15:56
INALUM
Foto: dok INALUM

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) telah menunjukkan komitmennya, untuk menjalankan program hilirisasi mineral nasional lewat peletakan batu pertama (groundbreaking) Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian bauksit-alumina-aluminium, pada 6 Februari 2026 di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Proyek ini menjadi bagian dari program hilirisasi mineral nasional yang didukung INALUM bersama Grup MIND ID, seperti yang diamanatkan melalui Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Proyek tersebut juga sejalan dengan arah kebijakan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan hilirisasi sebagai pilar utama penguatan industri nasional.

Direktur Utama INALUM, Melati Sarnita menuturkan, hilirisasi ini akan membuat Indonesia memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam komoditas strategis, khususnya aluminium. Diharapkan target swasembada aluminium pada tahun 2030 dapat tercapai.

"Hilirisasi bauksit menjadi aluminium merupakan agenda strategis nasional untuk memperkuat kemandirian sektor industri Indonesia. Percepatan pembangunan smelter dan refinery menjadi upaya untuk menekan ketergantungan impor, meningkatkan daya saing, serta membangun rantai pasok aluminium yang terintegrasi dari hulu hingga hilir yang memberikan pertumbuhan ekonomi bagi Indonesia," ujar Melati dalam keterangan resmi, Rabu (11/2/2026).

Asal tahu saja, Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian bauksit-alumina-aluminium di Mempawah terdiri dari Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 dan Smelter Aluminium. Dibangun di area yang sama dengan SGAR Fase 1 dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun, SGAR Fase 2 yang juga dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia, anak perusahaan INALUM dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), memiliki kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun.

Dengan adanya SGAR Fase 2, kapasitas produksi alumina domestik akan meningkat menjadi 2 juta ton per tahun dengan penyerapan bijih bauksit sebesar 6 juta ton per tahun yang dipasok dari seluruh area Izin Usaha Pertambangan (IUP) Aneka Tambang di Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Selain SGAR Fase 2, INALUM juga memulai pembangunan Smelter Aluminium di Mempawah yang mana pasokan listriknya akan disiapkan oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Smelter Aluminium Mempawah nantinya akan memiliki kapasitas produksi sebesar 600.000 ton per tahun, dengan seluruh produksinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan aluminium domestik.

Dengan menggabungkan produksi aluminium dari Smelter INALUM di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, maka total kapasitas produksi aluminium INALUM akan mencapai sekitar 900.000 ton per tahun.

Pembangunan dan pengoperasian Fasilitas Pengolahan dan Peleburan Aluminium Terpadu ini merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan total nilai investasi sebesar Rp 104,55 triliun atau setara dengan US$ 6,23 miliar. Proyek ini berperan krusial dalam memperkuat ketahanan pasokan bahan baku industri aluminium nasional, mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok aluminium global.

Lebih lanjut, pembangunan Smelter Aluminium Mempawah diharapkan memberikan dampak berganda (multiplier effect) berupa peningkatan output ekonomi domestik secara signifikan. Mengingat, proyek ini diperkirakan akan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp 71,8 triliun per tahun serta mendorong kenaikan penerimaan negara hingga sekitar Rp 6,6 triliun per tahun.

Di sisi lain, fasilitas terpadu ini juga berpotensi menyerap sekitar 65.000 tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, mulai dari tahap konstruksi hingga operasional serta sektor pendukung.

Pada akhirnya, groundbreaking fasilitas bauksit-alumina-aluminium di Mempawah, baik berupa SGAR Fase 2 dan Smelter Aluminium, semakin menegaskan komitmen INALUM dan Grup MIND ID dalam mengakselerasi hilirisasi mineral nasional secara berkelanjutan.

Melalui sinergi antar korporasi dalam negeri, dukungan kebijakan pemerintah, serta penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir, INALUM optimistis pembangunan ekosistem aluminium nasional yang mandiri, berdaya saing global, serta memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia dapat terwujud secara konkret dalam jangka panjang.

(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Inalum Targetkan Kapasitas Produksi Aluminium Melejit Jadi 900.000 Ton


Most Popular
Features