ECONOMIC OUTLOOK 2026

Jadi Bahan Sorotan Moody's dan S&P, Juda Agung: Defisit 3% Harga Mati

Zahwa Madjid, CNBC Indonesia
Selasa, 10/02/2026 14:38 WIB
Foto: Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan komitmen pemerintah untuk terus menjaga defisit APBN di bawah batas 3% terhadap PDB. Sebagai informasi, defisit APBN pada akhir 2025 lalu melebar dari target 2,53% menjadi 2,92% terhadap PDB (Rp695,1 triliun).

Hal ini pun menjadi sorotan lembaga pemeringkat seperti Moody's dan S&P. Juda menegaskan pemerintah tidak akan melanggar batasan defisit fiskal tersebut.


"Oh iya ya, kami jaga 3% itu harga mati lah," tegasnya seusai acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Sementara itu, dari sisi rasio utang, dia juga memastikan komitmen pemerintah untuk menjaga rasio utang di level 40% terhadap PDB. Pemerintah tidak akan membiarkan rasio ini meningkat di atas kisaran 40%.

"Di undang-undang kan 60%, tetapi kami akan jaga sekitar 40%," tegasnya.

Pada akhir 2025 lalu, seperti diketahui, rasio utang pemerintah mencapai 40,08% terhadap PDB yakni Rp9.549,46 triliun. Perkara inilah yang juga menjadi penilaian lembaga pemeringkat.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Wamenkeu Ungkap Bukti Ekonomi Kuat, Buka Jutaan Lapangan Kerja