MARKET DATA
Economic Outlook 2026

Apindo Ungkap Syarat Pertumbuhan Ekonomi RI: Investasi & Manufaktur

Robertus ,  CNBC Indonesia
10 February 2026 14:19
Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan kebangkitan sektor riil dan investasi menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Sayangnya, sektor riil yang menjadi tumpuan termasuk industri manufaktur tumbuh di bawah rata-rata nasional.

Melihat hal ini, Shinta menegaskan harus ada strategi dan biaya-biaya yang diturunkan agar Indonesia bisa berkompetisi dengan negara lain.

"Perhatian pertama bagaimana menekan high cost, pada prinsipnya Indonesia harus bisa berkompetisi dengan negara lain," ujar Shinta CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026)

Dia melanjutkan, biaya logistik, biaya energi, hingga biaya suku bunga pinjaman di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara lainnya. Selain itu, ada komponen biaya lain yang tidak terlihat yang membuat cost bisnis semakin mahal.

"Perizinan dan banyak regulasi memengaruhi. Kenapa namanya cost business? karena tidak bisa benar-benar dihitung," ungkapnya.

Pendorong penting lainnya adalah investasi yang masuk ke tanah air. Shinta mengatakan dibutuhkan deregulasi di lapangan, yang bisa mempersingkat waktu pendaftaran.

"Kita butuh 65 hari, negara lain bisa 1 hari. Jadi ini juga jadi faktor yang jadi perhatian karena kita belum bisa kompetitif dari sisi bisnisnya," ujar Shinta.

Dia pun memaparkan kondisi sektor manufaktur nasional yang justru memberi sinyal perlambatan. Terbukti, kata dia, dari data-data pertumbuhan di sebagian besar subsektor manufaktur justru di bawah rata-rata pertumbuhan nasional.

"Industri tekstil hanya tumbuh 3,5%, alas kaki 3,3%, furnitur malah cuma 1,6%. Dari 16 subsektor manufaktur, 9 subsektor tumbuh di bawah rata-rata nasional. Kondisi lapangan seperti itu," ucapnya.

(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Prabowo Setuju Airlangga Bentuk Tim Baru, Ternyata Ini Alasan-Tugasnya


Most Popular
Features