Kepala BRIN Kasih Nasihat Khusus, Sebut-Sebut Nasib Peradaban Baru
Jakarta,CNBC Indonesia - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan, pendekatan tata ruang tidak lagi bisa dilakukan secara parsial karena dampaknya langsung menyentuh kehidupan masyarakat luas. Tata ruang bukan hanya soal zonasi wilayah atau pembangunan fisik, namun sampai penentu kualitas hidup manusia di masa depan.
Ia menilai hubungan antara pembangunan infrastruktur dan pembentukan peradaban tidak bisa dipisahkan. Jalan, pelabuhan, hingga kawasan industri bukan sekadar fasilitas fisik, tetapi pemicu perubahan sosial, ekonomi, hingga politik.
"Menata ruang itu infrastruktur adalah bagian penting dalam mengonstruksi peradaban baru. Hubungan antara fisik infrastruktur dengan peradaban itu sesuatu yang terkait," katanya di kantor Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Senin (9/2/2026).
Sehingga perlunya pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dalam menyusun data ruang. Ia mengakui ilmu tata ruang telah lama berkembang di berbagai perguruan tinggi, namun implementasinya kerap terkendala kepentingan politik dan tarik menarik sektor.
Di sisi lain, integrasi antara tata ruang darat dan laut selama ini masih berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, kerusakan wilayah pesisir sering kali berakar dari aktivitas di daratan yang tidak terkendali.
"Ruang itu sangat berjenjang, ada darat, bawah tanah, laut, dan udara. Mengintegrasikan antar berbagai level ruang ini menjadi sesuatu yang penting," jelasnya.
Arif juga mengangkat contoh kearifan lokal berupa sistem "sawen" di Nusa Tenggara yang sejak dulu mengatur keseimbangan pemanfaatan hutan, sawah, dan laut secara terpadu berdasarkan waktu dan kebutuhan masyarakat. Prinsip tersebut relevan diterapkan dalam tata kelola modern lintas kabupaten, provinsi, hingga kementerian agar pembangunan tidak lagi terfragmentasi.
"PR kita hari ini adalah bagaimana integrasi spasial antara darat dan laut, karena apa yang terjadi di hulu hampir pasti berdampak ke pesisir," ujar Arif.
[Gambas:Video CNBC]