ESDM Sambut Mandat Danantara Percepat Jargas
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan program jaringan gas untuk rumah tangga (jargas) akan semakin diperkuat. Terutama untuk menekan angka subsidi terhadap energi impor yaitu LPG (elpiji) serta mewujudkan program Astacita pemerintahan Prabowo - Gibran di bidang energi.
"Jadi subsidi energi ini seperti tadi saya sudah jelaskan, kita bisa menurunkan apabila angka dari konsumsi bisa kita cut (kurangi) salah satunya terkait dengan konsumsi yang disubsidi misalnya LPG 3 kilo (kg). Makanya pada tahun 2025 dan dilanjutkan 2026 ini kita ada program jaringan gas (jargas)," ungkapnya saat menghadiri Energy Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (05/02).
Berdasarkan data Kementerian ESDM, dilakukan pembangunan jargas sebanyak 115.264 Sambungan Rumah (SR) dari tahun anggaran 2025/2026. Selanjutnya akan ditambah sebanyak 40.900 SR mulai semester kedua 2026 sehingga total jargas terbangun di akhir 2026 sebanyak 856.472 SR. "Ini semua untuk mengurangi konsumsi LPG 3 kilo dan ujungnya akan menurunkan angka subsidi juga," ujarnya.
Berkaitan dengan hal tersebut, Laode menyambut positif pembagian fokus bisnis di grup Pertamina oleh Danantara dimana PT Pertamina akan fokus di hulu serta PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) di midstream dan downstream.
"(Refocusing Pertamina dan PGN) Itu saya rasa sangat bagus. Nanti akan lebih efisien dan lebih fokus kepada bisnisnya. Memang PGN kan sudah merupakan bagian dari Pertamina. Sudah nggak ada isu sih PGN dengan Pertamina. So far oke-oke saja nggak ada masalah," ucapnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus COO Danantara Dony Oskaria menegaskan PGN akan bergerak di bisnis midstream dan downstream sebagai upaya untuk mendukung realisasi salah satu fokus utama pemerintah yaitu ketahanan energi.
Untuk meningkatkan ketahanan energi, khususnya dalam mengurangi impor dan subsidi LPG, PGN akan didorong untuk terus mengembangkan program jargas yang sebagai langkah awal, pembangunan gas kota akan dilakukan di Batam dan akan berlanjut. "Trial pembangunan jaringan gas rumah tangga dilakukan di Batam. Setelah itu akan berlanjut ke 4 kota lainnya," ujarnya.
Selain perluasan jargas, Danantara bersama pemerintah juga akan mulai mengembangkan Dimetil Eter (DME) untuk menggantikan ketergantungan rumah tangga Indonesia terhadap LPG. DME adalah bahan bakar gas hasil olahan batubara berkalori rendah atau bahan terbarukan yang diproyeksikan menggantikan LPG mulai 2026 - 2027 yang dikemas dalam tabung seperti LPG.
Sementara itu, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha mengatakan gas bumi berperan sangat strategis dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional serta bagi terwujudnya Astacita di bidang energi. Termasuk dalam upaya negara mengurangi ketergantungan terhadap impor dua komoditi yaitu BBM dan LPG.
"Hal yang menjadi cukup dominan itu adalah kita menjadikan gas ini sebagai buffer (penyangga)," ujarnya di tempat yang sama.
LPG, kata Satya, termasuk energi dengan kebutuhan sangat tinggi yang selama ini membebani keuangan negara. Terlebih LPG 3 kg yang selain merupakan produk impor juga disubsidi sehingga perlu segera mengoptimalkan peran gas bumi.
"Jadi kalau kita berbicara LPG kan masih impor maka jaringan gas kota juga harus sudah masuk dengan masif sehingga Kementerian Keuangan yang juga menjadi anggota DEN itu beliau akan melihat sebetulnya strategi daripada transisi energi kita itu mengurangi subsidi, tidak jadi beban negara yang selama ini menanggung," Satya menjelaskan.
(dpu/dpu)[Gambas:Video CNBC]