MARKET DATA
ESG Sustainability Forum 2026

Bencana Tekan Ekonomi RI, Kerugian per Tahun Tembus Rp 115 T

Martya Rizky,  CNBC Indonesia
03 February 2026 10:20
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan pidato utama dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)
Foto: Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan pidato utama dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan, bencana alam yang melanda Indonesia turut mempengaruhi aktivitas ekonomi.

Bencana yang kian memburuk akibat perubahan iklim dan aktivitas usaha yang tak mempertimbangkan prinsip lingkungan, sosial dan tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG) mampu menciptakan kerugian ekonomi per tahunnya.

"Ongkos pemulihan dari kerusakan cukup sangat mahal," kata Hanif di ESG Sustainability Forum 2026 dengan tema Akselerasi Agenda Hijau: Menjembatani Kepentingan Bisnis dan Keberlanjutan yang digelar di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Berdasarkan catatan Kementerian Lingkungan Hidup, dampak ekonomi dari berbagai kejadian bencana di Indonesia selama ini memberika kerugian rata-rata Rp 102 triliun sampai dengan Rp 115 triliun per tahun, atau setara 0,61% dari PDB.

Angka statistik ini mempertimbangkan 3.472 kejadian bencana yang telah tercatat sampai dengan periode 2024. Sebanyak 2,99% kejadian bencana itu terkait krisis iklim dalam bentuk hidrometeorologi.

"Kejadian banjir kemarin di Sumatera bahkan menimbulkan kerusakan lebih dari Rp 50-60 triliun. Setelah rusak apa yang terjadi? tentu membutuhkan pemulihan," tutur Hanif.

"Hampir Rp 100 triliun hanya untuk banjir di Sumatera. Ini apalagi nilai yang tidak bisa kita statistikan, yaitu jiwa dan raga saudara-saudara kita," tegasnya.

Bila navigasi pembangunan dan aktivitas ekonomi tak kunjung memperhatikan komitmen ESG, risiko masa depan terkait kerugian ekonomi akibat bencana ia peringatkan bisa makin besar.

Potensi lonjakan kerugian bisa sampai 1,6% dari PDB di pusat ekonomi seperti wilayah Jawa dan Sumatera jika tanpa intervensi.

"Untuk menyadarkan kita semua, apapun usaha ekonomi yang kita lakukan tanpa mengedepankan lingkungan sebagai pondasi utamanya, yang terjadi ongkos pemulihan dari kerusakan cukup sangat mahal," papar Hanif.

(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article China Digulung Malapetaka, Cuaca "Neraka" & Banjir Bandang Mengepung


Most Popular
Features