Internasional

Garda Revolusi Islam Dicap Teroris, Iran Panggil Semua Dubes Uni Eropa

Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
Senin, 02/02/2026 20:30 WIB
Foto: (via REUTERS/WANA NEWS AGENCY)

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran memanggil seluruh duta besar Uni Eropa (UE) di Teheran untuk memprotes keputusan blok tersebut yang menetapkan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai kelompok teroris. Langkah ini memperuncing ketegangan Iran dengan Barat, di tengah tekanan sanksi dan ancaman eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan proses pemanggilan para duta besar telah dimulai sejak Minggu dan berlanjut hingga Senin.

"Serangkaian tindakan telah ditinjau, berbagai opsi sedang dipersiapkan dan telah dikirim ke badan-badan pengambil keputusan terkait," kata Baghaei kepada wartawan, seperti dikutip The Associated Press, Senin (2/2/2026).


"Kami pikir dalam beberapa hari mendatang, keputusan akan dibuat mengenai tindakan timbal balik oleh Republik Islam Iran terhadap langkah ilegal, tidak masuk akal, dan sangat salah yang dilakukan oleh Uni Eropa," tambahnya.

UE pekan lalu sepakat memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi teroris atas perannya dalam penindakan keras terhadap gelombang protes nasional pada Januari, yang dilaporkan menewaskan ribuan orang dan menyebabkan puluhan ribu penahanan. Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) dan Kanada telah lebih dulu mengambil langkah serupa.

Meski dinilai bersifat simbolis, penetapan tersebut menambah tekanan ekonomi terhadap Iran. Pasalnya, IRGC memiliki pengaruh besar di berbagai sektor perekonomian negara itu, mulai dari energi hingga konstruksi.

Ketegangan ini terjadi saat Iran menghadapi ancaman aksi militer AS menyusul laporan pembunuhan demonstran damai dan potensi eksekusi massal. Militer AS diketahui mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak rudal ke Timur Tengah.

Namun, hingga kini belum jelas apakah Presiden AS Donald Trump akan menggunakan kekuatan militer.

Lembaga think tank Soufan Center yang berbasis di New York menilai Washington berada dalam posisi dilematis. Menurut mereka, Trump mencoba menyeimbangkan tanggapan terhadap pembunuhan massal demonstran di Iran dengan menghukum para pemimpin Iran, tanpa menyeret AS ke konflik baru yang tidak terbatas di kawasan.

Menurut lembaga tersebut, sebagian ajudan Trump ingin memanfaatkan melemahnya posisi Teheran untuk memperoleh konsesi besar, namun syarat diplomatik yang diajukan dinilai sulit diterima Iran.

Sebagai respons lanjutan, Ketua Parlemen Iran pada Minggu menyatakan bahwa Republik Islam kini menganggap seluruh militer UE sebagai kelompok teroris, merujuk pada undang-undang nasional tahun 2019.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Iran Labeli Militer Eropa Teroris, Balasan atas Pelabelan IRGC