MARKET DATA
Internasional

China Mulai Tinggalkan Babi Barat, Babi Hitam Jadi Primadona

Thea Fathanah Arbar,  CNBC Indonesia
02 February 2026 17:55
FILE PHOTO: Workers sort cuts of fresh pork in a processing plant in Zhengzhou, Henan province China, November 24, 2017. Picture taken through glass.  REUTERS/Dominique Patton/File Photo
Foto: REUTERS/Dominique Patton

Jakarta, CNBC Indonesia - China mulai meninggalkan daging babi putih impor dari Barat dan beralih ke babi hitam lokal yang dinilai lebih berkualitas dan bernilai premium. Pergeseran selera konsumen ini terjadi di tengah tekanan berat yang dialami industri daging babi terbesar di dunia akibat kelebihan pasokan dan anjloknya harga.

Gao Xianghua, seorang pedagang telur kepiting, menjadi gambaran perubahan tersebut. Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, ia membeli iga, kaki, dan sosis babi hitam senilai 1.000 yuan, setara sekitar Rp2,2 juta.

"Saya ingin anak-anak saya makan daging babi berkualitas yang biasa saya nikmati saat kecil, bukan daging babi murah yang diproduksi cepat," kata Gao saat ditemui di toko daging di lingkungannya, seperti dikutip Reuters, Senin (2/2/2026).

Bagi konsumen kelas menengah dan pembeli usia lebih tua di China, babi hitam bukan sekadar makanan, melainkan nostalgia masa kecil ketika babi dipelihara di rumah dan disembelih untuk acara keluarga besar menjelang Imlek.

Daging babi hitam kerap dipasarkan sebagai "Wagyu-nya daging babi" karena teksturnya yang lebih berlemak dan empuk. Harganya bisa mencapai empat kali lipat dibanding daging babi putih hasil persilangan Barat yang tumbuh cepat.

Lonjakan permintaan ini justru menjadi titik terang bagi produsen yang terhimpit krisis. Selama bertahun-tahun, industri babi China terpukul oleh permintaan lemah, ekonomi yang melambat, serta kelebihan kapasitas produksi pasca wabah demam babi Afrika.

Pada Desember lalu, pendapatan industri daging babi tercatat turun 14,6% secara tahunan. Produsen besar seperti Wen Foodstuff Group melaporkan laba bersih 2025 anjlok hingga 46,1%, sementara Muyuan Foods memperkirakan laba bersih turun sampai 17,8%.

Di tengah tekanan tersebut, babi hitam dianggap sebagai penyelamat. Yang Xinchun, peternak di Taizhou, mengaku memperoleh laba bersih lebih dari 1 juta yuan atau sekitar Rp2,2 miliar sepanjang 2025 dari 1.000 ekor babi hitamnya.

"Babi hitam menutupi kerugian dari 6.000 ekor babi putih yang saya pelihara," ujar Yang. Ia menambahkan, banyak peternak lain kini datang ke tokonya untuk belajar dari pengalamannya.

Yang berencana memperluas peternakan menjadi 15.000 ekor babi hitam serta memperbanyak toko dagingnya menjadi 40 waralaba.

"Babi hitam adalah satu-satunya jalan keluar bagi produsen babi, terutama peternak kecil dan menengah yang tertekan harga babi putih," kata Gao Qinxue, Direktur Asosiasi Ilmu Hewan dan Kedokteran Hewan China.

Tren ini juga menarik minat raksasa industri. Wen Foodstuff menargetkan babi hitam menyumbang 5% dari total ternaknya pada 2027, sementara New Hope memperluas populasi babi hitamnya yang kini telah melampaui 150.000 ekor.

Analis memperkirakan jumlah babi hitam di China akan meningkat 50% menjadi 30-32 juta ekor pada periode 2024-2026, atau sekitar 5% dari total populasi babi nasional.

Meski permintaan pasar premium diperkirakan melebihi pasokan sekitar 15-20%, para pengamat mengingatkan risiko kelebihan suplai dan ketiadaan standar industri.

"Tidak seperti daging babi Iberico Spanyol, tidak ada standar di China. Anda bisa mendatangkan babi Barat, mengecatnya sebagai 'hitam', dan menjualnya sebagai premium," kata David Casey, Direktur Senior Pig Improvement Company.

Ia menambahkan sebagian besar konsumen China masih memilih daging babi murah, sehingga keberlanjutan tren babi hitam akan sangat bergantung pada daya beli dan kepercayaan pasar.

 

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 'Kiamat' Daging Hantam Negeri Dewa Dewi, Harga 1 Kg Rp 297.000


Most Popular
Features