RI Punya Pabrik Baterai EV Raksasa, Ini Pemiliknya

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 02/02/2026 20:10 WIB
Foto: CNBC Indonesia

Jakarta,CNBC Indonesia - Indonesia melalui PT Industri Baterai Indonesia atau dikenal dengan Indonesia Battery Corporation (IBC) saat ini tengah membangun ekosistem pabrik baterai kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) terintegrasi yang digadang-gadang terbesar di Asia. Hal itu tak terlepas dari besarnya cadangan bahan baku utama komponen baterai, yakni nikel.

Proyek baterai dengan perkiraan nilai investasi sebesar Rp 7 triliun itu memiliki kapasitas 6,9 Giga Watt hour (GWh) per tahun. Berlokasi di Karawang, Jawa Barat, pabrik baterai EV ini ditargetkan beroperasi pada Kuartal III-2026.

Proyek pabrik baterai EV ini dioperasikan oleh PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (PT CATIB). PT CATIB ini merupakan usaha patungan antara perusahaan asal China yakni Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) melalui unit usaha di Indonesia yakni PT CBL Internasional Indonesia sebesar 70%, serta PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) sebesar 30%.


Sebagaimana diketahui, Indonesia saat ini tengah membangun ekosistem pabrik baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi yang diklaim terbesar di Asia. Hal itu didukung dengan besarnya cadangan bahan baku utama komponen baterai, yakni nikel.

Proyek ekosistem baterai terintegrasi hulu-hilir tersebut dioperasikan oleh PT Aneka Tambang (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan perusahaan asal China yakni Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) yang merupakan perusahaan patungan dari CATL, Brunp dan Lygend.

Adapun, total investasi keseluruhan proyek baterai terintegrasi hulu-hilir tersebut mencapai US$ 5,9 miliar atau setara Rp 96,04 triliun (asumsi kurs Rp 16.278 per US$).

Proyek tersebut terdiri dari total enam usaha patungan (Joint Venture/JV) mulai dari proyek hulu hingga hilir. Detailnya, JV satu hingga tiga merupakan ekosistem baterai di sisi hulu. Sedangkan, JV empat hingga enam merupakan ekosistem baterai di sisi hilir.

Hulu:

JV 1: Proyek pertambangan nikel PT Sumberdaya Arindo (SDA) kapasitas produksi nikel saprolite 7,8 juta wet metric ton (wmt) dan limonite 6 juta wmt, total 13,8 juta wmt dengan porsi kepemilikan saham PT Antam sebesar 51% dan CBL sebesar 49%. Proyek ini sudah mulai berproduksi sejak tahun 2023 lalu.

JV 2: Proyek fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) PT Feni Haltim (FHT) kapasitas 88 ribu ton refined nickel alloy per tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 60% dan PT Antam sebesar 40%. Proyek ini ditargetkan berproduksi pada tahun 2027 mendatang.

JV 3: Proyek fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis High Pressure Acid Leaching (HPAL) PT Nickel Cobalt Halmahera (HPAL JVCO) kapasitas 55 ribu ton MHP per tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT Antam sebesar 30%. Proyek ini ditargetkan berproduksi pada tahun 2028 mendatang.

Hilir:

JV 4: Proyek material baterai yang akan memproduksi bahan katoda, kobalt sulfat, dan prekursor terner kapasitas 30 ribu ton Li-hydroxide berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara dengan porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT IBC sebesar 30%. Proyek ini ditargetkan berproduksi pada tahun 2028 mendatang.

JV 5: Proyek sel baterai PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) berlokasi di Artha Industrial Hill (AIH) & Karawang New Industry City (KNIC). Proyek ini terbagi menjadi fase 1 dengan kapasitas 6,9 GWh/tahun dan fase 2 kapasitas 8,1 GWh/tahun, total kapasitas 15 GWh/tahun. Adapun, porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT IBC sebesar 30%. Proyek ini ditargetkan mulai berproduksi pada tahun 2026 mendatang untuk fase 1, dan pada tahun 2028 mendatang untuk fase 2.

JV 6: Proyek daur ulang baterai berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara kapasitas 20 ribu ton logam/tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 60% dan PT IBC sebesar 40%. Proyek ini ditargetkan tahun 2031 mendatang.

Struktur Kepemilikan Saham IBC

Di balik proyek baterai EV "raksasa" tersebut, tak luput ada peran dari perusahaan Indonesia, yakni PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC).

Lantas, siapa pemilik atau pemegang saham IBC?

Holding baterai tersebut merupakan induk usaha gabungan dari empat perusahaan pelat merah, yakni Holding BUMN Tambang MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero).

Dalam induk usaha gabungan tersebut, MIND ID bersama Antam bertindak sebagai penyedia bijih nikel untuk bahan baku utama pembuatan baterai. Pertamina menjalankan bisnis manufaktur produk hilir meliputi pembuatan sel baterai dan lainnya.

Sementara, PLN akan menyediakan infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan lain sebagainya. Porsi kepemilikan saham masing-masing BUMN tersebut awalnya adalah sebesar 25%. Namun yang terbaru, terdapat perubahan porsi kepemilikan saham IBC.

Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Pati Jaya membeberkan bahwa kepemilikan saham PT PLN (Persero) di PT Industri Baterai Indonesia (IBC) saat ini telah berkurang menjadi 7,5% dari sebelumnya sebesar 25%. Sebanyak 17,5% saham PLN di IBC dialihkan ke kepemilikan saham MIND ID di IBC lewat PT Inalum dan PT Aneka Tambang (Antam).

Bambang menyebutkan keputusan pengalihan kepemilikan saham PLN sebesar 17,5% ke MIND ID berlaku mulai hari ini. Artinya, struktur pemegang saham IBC saat ini terdiri dari MIND ID melalui Inalum sebesar 33,75%, Antam 33,75%, PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) 25%, dan PT PLN (Persero) 7,5%.

"Per hari ini, PLN itu sudah menyatakan bahwa mereka mundur dari IBC, proyek IBC dengan cara tidak akan melakukan chip-in lagi. Jadi setiap kali ada penambahan modal, mereka tidak akan nambah. Jadi dengan demikian sahamnya terdilusi. Dulunya mereka itu 25%, sekarang tinggal 7,5%," kata Bambang dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR RI, Jakarta, Senin (2/2/2026).

Saat ini, saham MIND ID dalam struktur kepemilikan IBC mencapai 67,5%. Artinya, MIND ID saat ini menjadi pemegang saham pengendali di IBC.

"Jadi kami berharap sebetulnya untuk men-direct ini biar lebih lincah IBC, ya harusnya MIND ID ini mengkoordinir ini sebagai saham pengendali. Karena kalau kita lihat ini kan sebetulnya sudah 60%," imbuhnya.

Dengan begitu, pihaknya berharap progres proyek investasi IBC di Indonesia bisa lebih terakselerasi.

"Dan mudah-mudahan dengan adanya saham pengendali dan kemudian juga investasi-investasi yang dilakukan, ini betul-betul dapat mengakselerasi investasi dan pengembangan teknologi baterai di Indonesia," tandasnya.

Di lain sisi, Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif membenarkan informasi perihal peralihan kepemilikan saham PLN dalam perusahaan. Aditya mengatakan saat ini PLN masih memiliki saham di IBC, namun porsinya mengecil.

"Masih ada. (PLN di IBC) 7,5% sekarang," ucap Aditya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (2/2/2026).


(ven/wia)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pemulihan Sistem Kelistrikan di Wilayah Bencana Hampir 100%