Heboh Gudang Kopi Palsu 7 Ton Digerebek, Pakai Kedelai & Bahan Perasa
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Vietnam menggerebek sebuah gudang produksi kopi palsu di Provinsi Lam Dong, Dataran Tinggi Tengah, dan menyita lebih dari 7 ton kopi palsu yang diduga dibuat dari campuran kedelai dan bahan perasa. Kasus ini langsung memicu penyelidikan kriminal dan menggegerkan publik di negara tetangga Indonesia tersebut.
Kementerian Keamanan Publik Vietnam menyatakan, dalam penggerebekan yang dilakukan pada 29 Januari, polisi menyita sekitar 4,1 ton produk kopi jadi serta 3 ton bahan baku yang digunakan untuk memproduksi kopi bubuk palsu. Gudang tersebut diduga telah beroperasi untuk memasok pasar lokal.
Pemilik gudang, Luong Viet Kiem, mengakui kepada penyidik bahwa perusahaannya mencampurkan kedelai dan perasa dengan biji kopi untuk menghasilkan kopi bubuk. Produk tersebut kemudian dipasarkan seolah-olah sebagai kopi asli. Hingga berita ini diturunkan, Reuters belum berhasil menghubungi Kiem untuk dimintai komentar lebih lanjut.
Penggerebekan ini berawal dari pemeriksaan polisi terhadap sebuah truk pada 27 Januari yang mengangkut 1.056 karung kopi bubuk dengan total berat 528 kilogram tanpa dilengkapi dokumen resmi. Temuan tersebut kemudian mengarah pada penggeledahan gudang produksi.
"Produk kopi palsu bukan hal yang langka. Kopi seperti ini bisa dibuat dari kedelai, jagung, atau campuran keduanya," ujar pedagang kopi Nguyen Quang Tho yang berbasis di Provinsi Dak Lak, seperti dikutip Reuters, Jumat (30/1/2026).
"Memang bahan tersebut bisa dikonsumsi dan jauh lebih murah dari biji kopi, tetapi tidak ada yang bisa menjamin keamanannya bagi kesehatan jika dikonsumsi sebagai kopi," tambahnya.
Vietnam dikenal sebagai produsen kopi Robusta terbesar di dunia, dengan Dataran Tinggi Tengah sebagai sentra produksi utama. Di wilayah tersebut, petani menjual biji kopi dengan harga sekitar 100.100-100.500 dong (setara Rp59.000-Rp59.300) per kilogram, sekitar tiga kali lebih mahal dibandingkan harga kedelai.
Kasus kopi palsu sebelumnya juga pernah mencoreng industri pertanian Vietnam. Pada 2018, polisi di kawasan yang sama menangkap lima orang yang menggunakan bahan kimia baterai untuk mewarnai ampas kopi dan menjualnya sebagai lada hitam.
Sementara itu, berdasarkan data bea cukai pemerintah, Vietnam mengekspor 1,6 juta ton kopi senilai US$8,9 miliar (sekitar Rp144,5 triliun) pada 2025, naik 18,3% secara volume dan melonjak 58,8% secara nilai. Praktik pemalsuan dinilai berpotensi merusak reputasi Vietnam di pasar kopi global.
Pihak berwenang menyatakan penyelidikan masih berlangsung untuk menelusuri jaringan distribusi dan kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam kasus kopi palsu tersebut
(sef/sef)[Gambas:Video CNBC]