Terungkap! Ini Penyebab Harga Emas di RI Meroket Tajam
Jakarta, CNBC Indonesia - Emas menjadi salah satu komoditas pemicu inflasi. Jika dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2005-2025, inflasi emas mendominasi signifikan hingga 58%. Meskipun signifikan, jika dikalkulasi, andilnya tidak mencapai 1%. Namun, kenaikan inflasinya tetap memicu sorotan publik karena sifat emas sebagai alat investasi.
Hal ini diungkapkan oleh Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi dalam Gold Outlook 2026.
Menurutnya, dinamika kenaikan harga emas juga cukup tinggi. Hanya dalam waktu setahun, harga emas meningkat hingga dua kali lipat. Per 30 januari, data Antam menunjukkan harga emas mencapai Rp 3.120.000 per gram.
"Ini memang mencerminkan dinamika yang tinggi, kalau melihat data dari Antam di 2024, itu sekitar Rp 1,3 juta harganya. 2025, itu sekitar Rp 1,5 juta sekarang dua kali lipat," paparnya.
Kenaikan harga emas ini dipicu oleh banyak hal, bukan hanya faktor global. Di Indonesia, Elen melihat ada faktor budaya lokal dari masyarakat. Dia mencontohkan, inflasi di Sumatera Selatan disebabkan utamanya oleh emas.
"(Emas) Perlambang karena dari budaya, dari tampilan selalu ada emas," ujarnya.
Selain itu, kesadaran masyarakat terhadap investasi emas sudah cukup besar. Masyarakat mulai berpikir emas adalah investasi yang aman. Pola ini tampak pada permintaan emas di PT Antam yang sempat alami kekurangan pasokan dan sembat mengandalkan PT Freeport Indonesia (PTFI). Sayangnya, PTFI juga mengalami gangguan tambah.Â
"Tapi kemudian itu dari sisi suplai banyak terjadi hal-hal di luar prediksi, misalnya Antam yang 2023 cukup pasokannya, tapi 2024, kemudian 2025 mengendalikan pasokan dari PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PTFI ada persoalan tambang bermasalah sehingga pasokan yang diperkirakan 30 tahun lebih itu mengalami penurunan," ujarnya.
Untungnya, masalah PTFI sudah selesai dan pasokan kembali berjalan. Kemudian, Antam juga mengalami persoalan hukum dan membuatnya harus setop impor. Ini pun mempengaruhi permintaan.Â
"Jadi di antara demand yang tiba-tiba tinggi, masyarakat percaya emas, bahwa di bullion bank sudah berkembang dengan baik, pasokannya terbatas. Jadi dua sisi inilah kita lihat dan harus kita carikan solusi," kata Elen.
(haa/haa)[Gambas:Video CNBC]