Skandal! 'Pangeran' Kerajaan Eropa Diadili, 38 Kasus-4 Pemerkosaan
Jakarta, CNBC Indonesia - Anak laki-laki Putri Mahkota Norwegia Mette-Marit, Marius Borg Hoiby, mulai diadili atas tuduhan serius. Total ada 38 dakwaan, termasuk empat kasus pemerkosaan, pelanggaran narkoba, dan penyerangan.
Kasus ini disebut sebagai skandal terbesar dalam sejarah monarki negara kaya Eropa itu. Persidangan sendiri sudah berlangsung sejak Selasa ke lelaki 29 tahun itu, di mana sebagian kasus terjadi di 2018.
Jika dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Distrik Oslo, Hoiby terancam hukuman maksimal 16 tahun penjara. Persidangan dijadwalkan berlangsung hingga 19 Maret dan menarik perhatian luas media internasional.
"Jika menyangkut keluarga kerajaan Norwegia, ini tanpa diragukan lagi adalah skandal terbesar dalam sejarah 120 tahun monarki," kata sejarawan dan pakar monarki Norwegia Trond Noren Isaksen kepada AFP, dikutip Jumat (30/1/2026).
Tuduhan paling berat mencakup empat kasus pemerkosaan serta pelecehan fisik dan psikologis terhadap beberapa mantan pasangan. Hingga kini, Hoiby hanya mengakui sebagian dakwaan yang lebih ringan.
"Hoiby menyimpan versinya untuk pengadilan," ujar firma hukum yang membelanya.
Bagaimana Kasus Berawal?
Kasus ini mencuat setelah anak tiri Putra Mahkota Norwegia, Hakoon, itu ditangkap pada 4 Agustus 2024 atas dugaan menyerang pacarnya. Ia kemudian mengaku bertindak di bawah pengaruh alkohol dan kokain, serta memiliki masalah kesehatan mental dan riwayat penyalahgunaan zat.
Penyelidikan lanjutan mengungkap dugaan pemerkosaan terhadap empat perempuan yang terjadi saat korban tidur atau mabuk berat, sebagian diduga direkam pelaku. Peristiwa tersebut terjadi pada 2018, 2023, dan 2024, termasuk saat penyelidikan polisi sudah berjalan.
Pekan lalu, polisi menambahkan enam dakwaan baru, termasuk pelanggaran narkotika serius pada 2020 terkait pengangkutan 3,5 kilogram ganja, yang telah diakui Hoiby. Jaksa Sturla Henriksbo menegaskan semua orang setara di mata hukum.
"Hoiby tidak boleh diperlakukan lebih lunak atau lebih keras karena afiliasi keluarganya," katanya.
Putra Mahkota Haakon sendiri menyatakan keluarga kerajaan menghormati proses hukum dan tidak akan menghadiri persidangan. Ia menegaskan keyakinan bahwa pengadilan akan berjalan adil.
"Kami sangat mempertimbangkan semua pihak yang terlibat," ujarnya.
Meski skandal ini menodai citra istana, dukungan publik terhadap monarki masih kuat. Jajak pendapat NRK menunjukkan 70% warga Norwegia tetap mendukung monarki, meski turun dari 81% pada 2017.
(sef/sef)