Kapal Intel China Diam-Diam Berlayar Dekat Iran, Ada Apa Xi Jinping?
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah kapal riset ilmiah China disebutkan terdeteksi beroperasi di perairan strategis Laut Arab selama sebulan penuh. Laporan soal aset Beijing ini muncul tak lama setelah kapal induk Amerika Serikat (AS) secara resmi merapat ke wilayah tersebut di tengah ketegangan yang kian membara dengan Iran.
Berdasarkan laporan maritim terbaru yang dikutip Newsweek, Jumat (30/1/2026) kapal riset China bernama Da Yang Yi Hao telah menyisir Laut Arab sejak pertengahan Desember.
Kapal yang juga dikenal sebagai "Ocean No. 1" ini bukanlah kapal sipil biasa. Kantor berita Xinhua melaporkan bahwa Da Yang Yi Hao adalah kapal riset samudera komprehensif modern pertama China yang mengeksplorasi laut dalam, yang dirancang untuk melakukan penelitian geofisika, kimia kelautan, serta biologi dan akustik.
Kapal ini memiliki kemampuan yang mengerikan bagi pertahanan lawan. Menurut SeaLight, kelompok analisis maritim Universitas Stanford, Da Yang Yi Hao dilengkapi dengan apa yang disebut sebagai sistem pencitraan dasar laut canggih dan kendaraan bawah air yang dioperasikan dari jarak jauh untuk pengambilan sampel, yang memungkinkannya memetakan medan bawah laut dan mencegat komunikasi bawah air.
Laporan pada Februari 2025 menunjukkan bahwa kapal tersebut telah ditingkatkan kemampuannya guna memberikan dukungan yang andal bagi kegiatan survei laut dalam di masa depan. Inisiatif Hidden Reach dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan bahwa PLA dan perwakilan sipilnya sedang memanen data dari lautan dunia.
"Meskipun manfaat ilmiah dan komersial mungkin timbul dari penelitian oseanografi China, aktivitas ini juga terbukti krusial bagi PLA dalam memperluas jangkauan operasional dan kemampuan mereka di Samudra Hindia," tulis laporan tersebut.
Laporan ini muncul saat Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan pada hari Senin bahwa gugus tempur laut yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln telah dikerahkan ke wilayah tersebut untuk mempromosikan keamanan dan stabilitas. Pengerahan ini merupakan sinyal peringatan keras bagi musuh-musuh AS di kawasan itu.
Ketegangan semakin meruncing karena kehadiran armada tempur ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengancam akan melakukan perubahan rezim di Iran menyusul tindakan keras Teheran terhadap protes anti-pemerintah.
The Wall Street Journal bahkan melaporkan bahwa Trump telah memerintahkan militer AS untuk bersiap menghadapi potensi serangan, yang jika terjadi, akan menjadi kali kedua dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
Di sisi lain, Beijing tampak berupaya menjaga keseimbangannya mengenai ketegangan Timur Tengah ini lewat jalur diplomasi meskipun tetap menggerakkan armada risetnya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa pihaknya akan terus memastikan perdamaian.
"China berharap Iran akan menjaga stabilitas nasional dan semua pihak akan menghargai perdamaian, menahan diri, dan menyelesaikan perbedaan melalui dialog," tuturnya.
(tps/tps)