Ngeri! Korban Tewas Perang Rusia-Ukraina Tembus 2 Juta Orang
Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah tentara Rusia dan Ukraina yang tewas, terluka, atau hilang dalam hampir empat tahun perang diprediksi mencapai 2 juta orang pada musim semi ini. Studi terbaru menunjukkan serangan Moskow belum menunjukkan tanda-tanda mereda meskipun jumlah korban terus meroket secara drastis.
Laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington pada Rabu (28/1/2026) memperkirakan Rusia mengalami sekitar 1,2 juta korban jiwa, termasuk 325.000 kematian. Sementara itu, hampir 600.000 tentara Ukraina dilaporkan telah tewas, terluka, atau dinyatakan hilang di medan tempur.
Estimasi CSIS ini didasarkan pada wawancara dengan pejabat Barat dan Ukraina serta data yang dikumpulkan oleh media independen Rusia Mediazona dan BBC Russian Service. Angka-angka ini menjadi rujukan penting mengingat ketatnya arus informasi dari zona konflik.
Berdasarkan perbandingan sejarah, jumlah kerugian ini dianggap sangat luar biasa dan mengerikan bagi kedua belah pihak. Kematian tentara Rusia di Ukraina tercatat 17 kali lebih besar dibandingkan kerugian Uni Soviet di Afghanistan pada tahun 1980-an.
Angka kematian ini juga 11 kali lebih tinggi dibandingkan perang Chechnya pertama dan kedua yang pernah dialami Rusia. Bahkan, jumlah ini lima kali lebih besar dari total korban seluruh perang Rusia dan Soviet digabungkan sejak Perang Dunia kedua.
Korban di pihak Rusia diperkirakan melampaui kerugian Ukraina dengan rasio sekitar 2,5 banding 1 atau 2 banding 1. Namun, data ini tetap memberikan gambaran suram bagi Ukraina yang memiliki populasi jauh lebih kecil dibandingkan Rusia.
Kyiv memiliki kapasitas yang jauh lebih terbatas untuk menanggung kerugian jangka panjang dan melakukan mobilisasi pasukan baru. Hal ini menjadi tantangan berat bagi militer Ukraina untuk terus bertahan menghadapi gempuran tanpa henti.
Moskow kini beralih ke strategi pemberian gaji yang sangat besar dan paket tunjangan yang diperluas untuk menarik rekrutan baru. Otoritas regional bahkan menawarkan bonus pendaftaran yang nilainya setara dengan puluhan ribu dolar AS.
Kremlin juga dilaporkan telah merekrut ribuan pria dari wilayah Asia, Amerika Selatan, hingga Afrika untuk mengisi barisan tempur. Banyak dari mereka tertarik oleh janji-janji yang menyesatkan atau bahkan tunduk di bawah tekanan pihak tertentu.
Di sisi lain, Ukraina berjuang keras untuk memobilisasi cukup banyak tentara guna mengisi kembali unit-unit yang telah terkuras habis. Volodymyr Zelensky sejauh ini masih menolak tuntutan untuk menurunkan usia mobilisasi di bawah 25 tahun karena alasan popularitas.
Meskipun skala korban jiwa sangat masif di kedua belah pihak, perolehan wilayah yang didapatkan Rusia tetap tergolong sangat kecil. CSIS menemukan bahwa sejak 2024, pasukan Rusia hanya maju rata-rata 15 hingga 70 meter per hari selama serangan utama.
Kecepatan ini disebut lebih lambat daripada hampir semua kampanye ofensif besar dalam sejarah peperangan modern di dunia. Kemajuan Moskow di Ukraina timur dan wilayah Dnipropetrovsk telah melambat drastis akibat kondisi musim dingin yang ekstrem.
Data dari kelompok pemantau Ukraina DeepState mencatat Rusia hanya merebut 152 km persegi wilayah antara tanggal 1 hingga 25 Januari. Ini merupakan laju kemajuan paling lambat yang pernah tercatat sejak bulan Maret tahun lalu.
Sejak Presiden Rusia Vladimir Putin meluncurkan serangan skala penuh, kedua belah pihak tidak pernah mengungkapkan angka korban secara komprehensif kepada publik. Skala kerugian ini diperlakukan sebagai rahasia negara yang dijaga sangat ketat oleh pihak Moskow maupun Kyiv.
Pemerintah Kremlin pada hari Rabu membantah laporan CSIS tersebut. Mereka menganggap data yang disajikan tidak kredibel.
"Hanya Kementerian Pertahanan Rusia yang memiliki otoritas resmi untuk merilis angka korban perang," ujar Moskow dikutip The Guardian.
Rusia, Ukraina, dan AS sempat bertemu di Abu Dhabi akhir pekan lalu untuk pembicaraan damai pertama sejak serangan skala penuh. Namun, tidak ada tanda-tanda terobosan karena Kremlin terus mendesak tuntutan maksimal mereka atas wilayah Ukraina.
(tps/luc)[Gambas:Video CNBC]