Internasional

Asia Tak Bisa Tenang, Militer China dan Rusia Kompak Jepit Sekutu AS

luc, CNBC Indonesia
Rabu, 28/01/2026 05:35 WIB
Foto: Jepang mengerahkan sejumlah jet tempur untuk memantau pergerakan sejumlah pesawat pengebom Rusia dan China yang melakukan patroli gabungan di sekitar negara tersebut. (AFP/HANDOUT)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas militer Rusia dan China kembali menjadi sorotan di Jepang setelah Kementerian Pertahanan Jepang melaporkan pengerahan kapal dan pesawat kedua negara yang dinilai memiliki kemampuan pengumpulan intelijen di sekitar wilayah Jepang dalam beberapa hari terakhir. Perkembangan ini menambah ketegangan di kawasan, di tengah upaya Tokyo memperkuat postur pertahanannya.

Dalam pernyataannya, Kementerian Pertahanan Jepang menyebut Rusia dan China sama-sama mengerahkan aset militer yang beroperasi di perairan dan ruang udara di sekitar Jepang.

Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari pola rutin kedua negara, yang mereka sebut sebagai "kemitraan tanpa batas", untuk menunjukkan kehadiran dan kekuatan militernya di kawasan, termasuk terhadap Amerika Serikat dan Jepang sebagai sekutu perjanjian pertahanan Washington.


Pengerahan terbaru itu terjadi bersamaan dengan langkah Jepang meningkatkan kemampuan militernya, termasuk pengoperasian jet siluman dan kapal induk, dalam menghadapi apa yang oleh pemerintah disebut sebagai lingkungan keamanan "paling parah dan kompleks" sejak era pascaperang.

Kantor Staf Gabungan Kementerian Pertahanan Jepang melaporkan bahwa sebuah kapal mata-mata Rusia, yang diidentifikasi melalui nomor lambung sebagai Kareliya, memasuki Laut Jepang, yang juga dikenal sebagai Laut Timur, dari Laut China Timur melalui Selat Tsushima antara Minggu hingga Senin.

Selat Tsushima, yang terletak di antara Semenanjung Korea dan Kepulauan Jepang, merupakan salah satu jalur laut yang oleh Jepang ditetapkan sebagai perairan internasional. Di kawasan ini, lebar perairan teritorial Jepang dibatasi hingga sekitar 13,8 mil laut guna menjaga koridor laut lepas bagi pelayaran internasional.

Berdasarkan peta yang dirilis Kantor Staf Gabungan, Kareliya pertama kali terdeteksi berada di Laut China Timur pada 7 Januari ketika melintas melalui Selat Tsushima. Kapal tersebut kemudian beroperasi di sekitar pulau-pulau terpencil di barat daya Jepang antara 12 hingga 24 Januari.

Saat Kareliya bergerak menuju wilayah Timur Jauh Rusia, sebuah pesawat pengintai Rusia jenis Il-20 juga terdeteksi terbang di atas Laut Okhotsk, di utara Hokkaido setelah lepas landas dari suatu lokasi di daratan Rusia di sebelah barat Hokkaido pada Senin.

Setelah mencapai Samudra Pasifik di sebelah timur Hokkaido, pesawat tersebut terbang ke arah selatan hingga mencapai perairan di lepas pantai utara Honshu, pulau utama terbesar Jepang. Kawasan ini berdekatan dengan Pangkalan Udara Misawa, yang menurut rencana Amerika Serikat akan ditingkatkan dengan pengerahan 48 jet tempur siluman F-35A.

Kementerian Pertahanan Jepang juga menunjukkan dalam peta bahwa pesawat Rusia tersebut sempat melintasi wilayah udara di atas gugusan pulau kecil di timur laut Hokkaido. Namun, pulau-pulau itu berada di bawah administrasi Rusia sejak 1945, setelah direbut dari Jepang pada akhir Perang Dunia II.

Selain aktivitas Rusia, Jepang juga mencatat pergerakan militer China. Pada Sabtu, sebuah kapal pengumpul intelijen China yang diidentifikasi dengan nomor lambung CNS Beijixing melintasi Selat Miyako, yang terletak di antara Okinawa dan Kepulauan Miyako, di perairan barat daya Jepang. Kapal tersebut kemudian bergerak dari Laut China Timur menuju Laut Filipina.

Selama pertemuan dengan aset militer Rusia dan China tersebut, Pasukan Bela Diri Udara dan Maritim Jepang mengerahkan pesawat serta kapal untuk melakukan pemantauan dan pengawasan.

"Melihat karakteristik kapal dan pesawat [Rusia dan China] yang terlibat dalam aktivitas ini, dapat diasumsikan bahwa operasi-operasi tersebut dimaksudkan untuk suatu bentuk pengumpulan intelijen," tulis Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi di media sosial, sebagaimana dikutip Newsweek, Rabu (28/1/2026).

Koizumi menegaskan Jepang akan terus menjaga apa yang ia sebut sebagai "kewaspadaan tertinggi" dalam pemantauan dan pengawasan, dengan fokus kuat pada aktivitas militer China dan Rusia di laut dan udara di sekitar wilayah Jepang.

Dalam pernyataan lain yang diunggah di platform X, Koizumi menulis, "Militer China dan Rusia terus melakukan operasi aktif di laut dan ruang udara di sekitar negara kita sejak awal tahun ini, dengan memanfaatkan kapal dan pesawat pengumpul intelijen, serta aset lainnya."

Kekhawatiran tersebut juga tecermin dalam buku putih pertahanan Jepang tahun 2025. Dokumen itu menyatakan militer Rusia terus melakukan aktivitas militer aktif di sekitar Jepang dan wilayah sekitarnya, menunjukkan kecenderungan untuk mengerahkan peralatan militer terbaru di Timur Jauh.

"Aktivitas militer Rusia di kawasan Indo-Pasifik, termasuk Jepang, yang dikombinasikan dengan kemitraan strategisnya dengan China, menimbulkan kekhawatiran keamanan yang serius."

Ke depan, Rusia dan China diperkirakan akan terus meningkatkan aktivitas militernya di sekitar Jepang. Hal ini sejalan dengan kesepakatan terbaru antara Amerika Serikat dan Jepang untuk memperkuat kehadiran pasukan mereka di kawasan Pasifik barat, sebuah langkah yang berpotensi semakin mempertajam dinamika keamanan regional.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ekspor Jepang Tumbuh 5,1% di Akhir 2025, Tekanan dari AS