Internasional

Armada Perang AS Tiba di Timur Tengah, Pendukung Iran Satukan Kekuatan

luc, CNBC Indonesia
Selasa, 27/01/2026 13:15 WIB
Foto: Sebuah F/A-18F Super Hornet, yang ditugaskan ke Strike Fighter Squadron (VFA) 41, bersiap melakukan pendaratan darurat di dek penerbangan kapal induk kelas Nimitz Angkatan Laut AS USS Abraham Lincoln di Samudra Pasifik, 10 Agustus 2024. (via REUTERS/Seaman Apprentice Daniel Kimmelm)

Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas setelah pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dipandang sebagai serangan langsung terhadap kelompoknya dan berpotensi memicu perang regional berskala luas.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Senin (25/1/2026), Qassem menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan tinggal diam jika Teheran diserang. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Trump sebelumnya sempat terlihat menarik diri dari opsi intervensi militer langsung, namun menegaskan bahwa langkah tersebut tetap menjadi kemungkinan.


Berbicara di hadapan para pendukung dalam aksi solidaritas untuk Iran, Qassem mengatakan bahwa Hizbullah dan Teheran kini menghadapi bentuk agresi yang sama. Ia juga menegaskan bahwa konflik baru akan membawa dampak besar bagi kawasan.

"Kami akan memilih pada saat itu bagaimana harus bertindak... tetapi kami tidak netral," ujarnya, dilansir AFP.

"Tentang bagaimana kami bertindak, itu adalah detail yang ditentukan oleh pertempuran, dan kami akan memutuskan sesuai dengan kepentingan yang ada."

Iran selama ini menjadi pendukung utama Hizbullah, dengan menyediakan dana dan persenjataan sejak kelompok tersebut berdiri pada 1980-an.

Menurut Qassem, dalam dua bulan terakhir pihaknya menerima pertanyaan "jelas dan eksplisit" melalui mediator mengenai apakah Hizbullah akan ikut campur jika Amerika Serikat dan Israel berperang dengan Iran.

"Mereka meminta janji dari partai bahwa kami tidak akan melakukan intervensi," katanya.

Lebih dari satu tahun bentrokan antara Israel dan Hizbullah, yang sebagian besar berakhir dengan gencatan senjata pada November 2024, telah melemahkan kelompok itu secara signifikan. Pemerintah Lebanon juga mulai menjalankan rencana pelucutan senjata Hizbullah, dimulai dari wilayah selatan negara tersebut.

Kataib Hizbullah Ancam Perang Total

Di Irak, kelompok paramiliter Kataib Hizbullah juga mengeluarkan peringatan keras jika Iran diserang. Kelompok yang didukung Teheran itu menyatakan siap terlibat secara militer dalam membela Iran.

Pemimpin Kataib Hizbullah, Abu Hussein al-Hamidawi, dalam pernyataannya menyerukan para pejuangnya untuk bersiap menghadapi perang. Ia menuduh "kekuatan kegelapan" sedang berkumpul untuk menundukkan dan menghancurkan Iran, yang ia sebut sebagai "benteng dan kebanggaan" umat Muslim.

"Kami menegaskan kepada para musuh bahwa perang melawan Republik Islam tidak akan menjadi jalan-jalan santai," kata al-Hamidawi, dilansir Al Jazeera.

"Sebaliknya, kalian akan merasakan bentuk kematian yang paling pahit, dan tidak akan ada yang tersisa dari kalian di kawasan kami."

Saat Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran pada Juni tahun lalu, sekutu-sekutu regionalnya yang tergabung dalam "poros perlawanan", termasuk Hizbullah di Lebanon dan kelompok bersenjata Irak, tidak turun tangan secara langsung. Namun, al-Hamidawi mengisyaratkan bahwa kali ini situasinya akan berbeda.

Ia menekankan "perlunya mendukung Iran dari kekuatan poros dan membantunya dengan cara apa pun yang mereka bisa".

Kataib Hizbullah merupakan salah satu kelompok terbesar dalam Popular Mobilisation Forces (PMF), yang dibentuk pada 2014 untuk menghentikan kemajuan cepat kelompok ISIL (ISIS) di Irak saat itu.

Armada AS Tiba di Timur Tengah

Armada laut AS dalam kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln, termasuk beberapa kapal perusak berpeluru kendali, sudah tiba di wilayah TImur Tengah dan berada dalam jarak serang terhadap Iran. Meski demikian, belum ada kepastian bahwa serangan lanjutan AS akan memicu kembali gelombang demonstrasi besar-besaran di dalam negeri.

Sejumlah kekuatan regional, termasuk Uni Emirat Arab, menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun perairannya digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Namun, keberadaan kapal induk AS di Laut Mediterania dinilai membuat Washington tidak memerlukan izin dari banyak pihak ketiga untuk menyerang.

Selama akhir pekan, militer AS juga mengumumkan akan menggelar latihan di kawasan tersebut "untuk menunjukkan kemampuan mengerahkan, menyebarkan, dan mempertahankan kekuatan udara tempur".

Serangan yang dikhawatirkan terjadi kali ini diperkirakan tidak lagi berfokus pada program nuklir Iran yang sejatinya sudah terpukul dalam perang 12 hari pada Juni lalu, melainkan menyasar kepemimpinan politik negara itu.

Tujuannya, menurut sejumlah pengamat, untuk kembali memicu kemarahan publik akibat merosotnya standar hidup. Data resmi terbaru menunjukkan inflasi Iran dalam sebulan terakhir telah mencapai 60%.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menuduh Amerika Serikat sedang berupaya menghancurkan kohesi sosial Iran sebelum melancarkan serangan militer. Ia menuding Presiden AS Donald Trump sengaja menggambarkan Iran berada dalam kondisi darurat.

Menurutnya, upaya Trump untuk menggambarkan negara ini seolah dalam keadaan darurat itu sendiri merupakan bentuk peperangan.

"Para perusuh merupakan kelompok urban dengan karakteristik mirip teroris. Ketika mereka menyerbu pusat militer dan polisi untuk mendapatkan senjata, itu menunjukkan mereka ingin memicu perang saudara. Kali ini, taktik AS adalah memecah kohesi publik terlebih dahulu, baru kemudian melakukan serangan militer," kata Larijani, dilansir The Guardian.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah keras laporan yang menyebut utusan khusus AS Steve Witkoff tengah menjalin kontak dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk membahas kemungkinan kesepakatan diplomatik.

Witkoff belakangan diketahui menaikkan tuntutannya, termasuk soal kembalinya inspektur senjata PBB ke Iran, penarikan seluruh stok uranium yang diperkaya tinggi, serta pembatasan program rudal Iran.

Baghaei mengatakan angkatan bersenjata Iran "memantau dengan cermat setiap pergerakan" dan memperingatkan bahwa pengerahan pasukan serta ancaman militer "bertentangan dengan prinsip-prinsip sistem internasional".

"Jika prinsip-prinsip itu dilanggar, ketidakamanan akan menimpa semua pihak," ujarnya, seraya menambahkan, "kami akan memberikan respons yang menyeluruh dan disesalkan terhadap setiap agresi."

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: 9 Negara Timur Tengah-Asia Gabung Dewan Perdamaian Trump Gaza