Internasional

Trump Uring-uringan Lagi, Mendadak Getok Tarif untuk Korsel Jadi 25%

luc, CNBC Indonesia
Selasa, 27/01/2026 08:00 WIB
Foto: Presiden AS Donald Trump dianugerahi "Grand Order of Mugunghwa" saat bertemu dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung di sela-sela KTT para pemimpin Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Gyeongju, Korea Selatan, 29 Oktober 2025. (REUTERS/Evelyn Hockstein)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan dagang Amerika Serikat dan Korea Selatan kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor terhadap sejumlah produk utama asal Negeri Ginseng menjadi 25%.

Kebijakan ini menandai perubahan sikap Washington hanya beberapa bulan setelah kedua negara menyepakati perjanjian dagang dan keamanan yang sebelumnya disebut sebagai terobosan penting.

Dalam pernyataannya pada Senin (26/1/2026) waktu setempat, Trump menuding Korea Selatan tidak menepati komitmen dalam kesepakatan tersebut. Ia menyalahkan parlemen Korsel yang dinilai belum meratifikasi perjanjian perdagangan yang telah disepakati bersama.


"Karena Legislatif Korea belum mengesahkan Perjanjian Perdagangan Bersejarah kita, yang tentu saja menjadi hak mereka, saya dengan ini menaikkan TARIF Korea Selatan untuk mobil, kayu, farmasi, dan semua Tarif Timbal Balik lainnya dari 15% menjadi 25%," tulis Trump melalui platform Truth Social miliknya.

Sebelumnya, Washington dan Seoul telah mencapai kesepakatan dagang dan keamanan setelah melalui negosiasi yang alot. Kesepakatan tersebut difinalisasi usai Trump bertemu dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Oktober lalu.

Dalam perjanjian itu, Korea Selatan menjanjikan peningkatan investasi di AS, sementara Washington sepakat menurunkan sejumlah tarif impor terhadap produk Korea Selatan. Salah satu poin kunci dalam kesepakatan tersebut adalah keputusan AS untuk mempertahankan tarif maksimal 15% atas produk Korea Selatan, termasuk kendaraan, suku cadang mobil, dan produk farmasi.

Yang paling krusial, tarif impor mobil asal Korea Selatan ke AS sebelumnya diturunkan dari 25% menjadi 15%. Kebijakan ini dianggap sangat penting bagi industri otomotif Korea Selatan yang sangat bergantung pada pasar AS.

Namun, ancaman terbaru Trump berpotensi membalikkan seluruh kesepakatan tersebut. Jika tarif benar-benar dinaikkan kembali menjadi 25%, maka produk otomotif Korea Selatan akan kembali terkena beban tarif tinggi seperti sebelum perjanjian dicapai.

Sektor otomotif sendiri menyumbang sekitar 27% dari total ekspor Korea Selatan ke Amerika Serikat. AS juga menjadi pasar utama, menyerap hampir setengah dari total ekspor mobil Korea Selatan ke luar negeri.

Kenaikan tarif ini tidak hanya berisiko menekan kinerja ekspor Korea Selatan, tetapi juga membuat posisinya menjadi kurang menguntungkan dibandingkan negara lain seperti Jepang dan Uni Eropa. Kedua ekonomi besar tersebut telah lebih dulu mencapai kesepakatan dengan Washington untuk mempertahankan tarif impor di level 15%.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Q4-2025, Ekonomi Korea Selatan Tumbuh Melambat, Hanya 1,5%