Internasional

Sekjen NATO Gegerkan Eropa: Tanpa AS, Pertahanan Cuma Mimpi!

luc, CNBC Indonesia
Selasa, 27/01/2026 06:05 WIB
Foto: Presiden AS Donald Trump mengadakan pertemuan bilateral dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, 21 Januari 2026. (REUTERS/Jonathan Ernst)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak berilusi bisa menjamin keamanan benua itu tanpa dukungan Amerika Serikat.

Dalam pidatonya di Parlemen Eropa di Brussels pada Senin (26/1/2026) waktu setempat, Rutte secara tegas menegaskan bahwa Eropa masih sangat bergantung pada peran militer dan payung nuklir Washington.

"Jika ada yang berpikir lagi di sini bahwa Uni Eropa, atau Eropa secara keseluruhan, bisa mempertahankan diri tanpa AS, teruslah bermimpi. Kalian tidak bisa. Kami tidak bisa. Kita saling membutuhkan," kata Rutte dalam pidatonya, dilansir CNN International.


Ia menambahkan apabila negara-negara Eropa benar-benar ingin berdiri sendiri dalam urusan pertahanan, maka mereka harus siap menaikkan belanja pertahanan hingga 10% dari produk domestik bruto. Selain itu, Eropa juga harus membangun kemampuan nuklir sendiri, yang menurutnya akan menelan biaya miliaran euro.

"Dalam skenario itu, kalian akan kehilangan penjamin utama kebebasan kita, yaitu payung nuklir AS. Jadi, ya, semoga beruntung," ujar Rutte.

Pernyataan itu muncul setelah sepekan penuh dinamika bagi Eropa dan sekutu Baratnya, menyusul langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali mendorong tuntutannya agar AS memiliki Greenland.

Namun, dalam pidatonya di World Economic Forum di Davos, Swiss, Trump kemudian secara terbuka menyatakan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mencaplok pulau Arktik tersebut.

Meski banyak pihak di Eropa mengkritik manuver Trump, Rutte justru memuji presiden AS itu karena mengangkat isu keamanan kawasan Arktik, meskipun ia mengakui pandangannya itu kemungkinan besar tidak disukai banyak anggota parlemen.

"Saya pikir dia benar. Ada masalah di kawasan Arktik. Ada isu keamanan kolektif, karena jalur-jalur laut ini mulai terbuka, dan karena China serta Rusia semakin aktif," kata Rutte.

Rutte menjelaskan ke depan akan ada dua jalur kerja utama terkait isu Greenland. Pertama, NATO akan mengambil tanggung jawab kolektif yang lebih besar dalam pertahanan kawasan Arktik, dengan tujuan mencegah akses Rusia dan China ke wilayah tersebut, baik secara militer maupun ekonomi.

Jalur kedua adalah kelanjutan pembicaraan trilateral antara Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland. Rutte menegaskan dirinya tidak akan terlibat langsung dalam perundingan itu.

"Saya tidak punya mandat untuk bernegosiasi atas nama Denmark, dan saya tidak akan melakukannya," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen dan mitranya dari Greenland, Vivian Motzfeld, telah bertemu dengan Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio di Washington awal bulan ini.

Rasmussen menyebut pertemuan tersebut berlangsung "konstruktif", namun mengakui masih ada "perbedaan mendasar" di antara para pihak.

Sepekan kemudian, Trump dan Rutte bertemu di Davos. Dalam kesempatan itu, Trump mengklaim telah mencapai kerangka kesepakatan mengenai Greenland dengan Sekjen NATO tersebut.

Ia bahkan menyatakan tidak akan lagi memberlakukan tarif terhadap negara-negara Eropa yang sebelumnya menentang ambisinya untuk mengambil alih wilayah semi-otonom milik Denmark itu.

Namun, hingga kini belum jelas secara rinci apa saja isi kerangka kesepakatan tersebut, maupun peran pasti Rutte dalam proses pembicaraan itu.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Makin Serius 'Caplok' Greenland, Trump Kini Ancam NATO