Internasional

Trump Kobarkan "Perang" di Dalam Negeri, Aparat Tembak Mati Warga Lagi

luc, CNBC Indonesia
Minggu, 25/01/2026 06:20 WIB
Foto: Agen federal berdiri di dekat mobil warga sipil yang rusak, yang ditabrak oleh agen Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE), setelah seorang agen ICE menembak mati Renee Nicole Good, di Minneapolis, Minnesota, AS, 12 Januari 2026. (REUTERS/Tim Evans)

Jakarta, CNBC Indonesia - Agen Patroli Perbatasan Amerika Serikat menembak mati seorang pria di Minneapolis pada Sabtu (24/1/2026), di tengah meningkatnya ketegangan akibat operasi besar-besaran penegakan imigrasi yang memicu gelombang protes dari warga dan pejabat lokal.

Insiden ini menjadi kasus penembakan kedua dalam bulan ini yang melibatkan aparat federal di Minneapolis, menyusul pengerahan ribuan petugas imigrasi ke wilayah tersebut atas perintah Presiden Donald Trump.

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (Department of Homeland Security/DHS) menyatakan bahwa agen Patroli Perbatasan melepaskan tembakan untuk membela diri setelah mencoba melucuti seorang pria yang, menurut kepolisian setempat, merupakan warga negara Amerika Serikat.


Pejabat federal mengatakan pria tersebut mendekati agen dengan membawa sebuah pistol dan dua magazen.

"Ini terlihat seperti situasi di mana seorang individu ingin menyebabkan kerusakan sebesar-besarnya dan membantai aparat penegak hukum," kata Gregory Bovino, pejabat Patroli Perbatasan yang memimpin operasi lokal, dalam konferensi pers, dilansir Reuters.

Bovino mengatakan para agennya saat itu sedang mencari seorang imigran sebelum terjadi penembakan. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai kronologi kejadian, seraya menyebut kasus ini masih dalam penyelidikan.

Insiden ini memperdalam ketegangan antara pejabat negara bagian dan pemerintah lokal dari Partai Demokrat, yang menilai kehadiran ribuan agen imigrasi justru membuat kawasan Minneapolis makin tidak aman.

Keterangan Polisi

Kepala Kepolisian Minneapolis, Brian O'Hara, mengatakan pria yang tewas merupakan warga kota berusia 37 tahun dan pemilik senjata api yang sah. Menurut O'Hara, korban tidak memiliki catatan kriminal selain pelanggaran lalu lintas.

Tolong jangan hancurkan kota kita.Kepala Kepolisian Minneapolis Brian O'Hara

Sebuah video yang beredar di media sosial dan ditayangkan di sejumlah stasiun televisi kabel memperlihatkan beberapa orang mengenakan masker dan rompi taktis bergulat dengan seorang pria di jalan yang tertutup salju, sebelum terdengar suara tembakan. Dalam video tersebut, pria itu terjatuh ke tanah, lalu terdengar beberapa tembakan lagi.

Rekaman lain dari lokasi menunjukkan agen-agen bersenjata dan bermasker menembakkan gas air mata ke arah kerumunan demonstran yang semakin membesar. Para demonstran terdengar meneriakkan "memalukan" dan menyebut para agen sebagai "pengkhianat".

Polisi lokal dan negara bagian kemudian tiba di lokasi untuk menghadapi massa, sementara para agen federal meninggalkan area tersebut.

O'Hara meminta masyarakat menjauhi lokasi dan menyebut tempat kejadian sebagai "situasi yang sangat rawan". "Tolong jangan hancurkan kota kita," ujarnya.

Museum Seni Minneapolis Institute of Art yang berada di dekat lokasi menyatakan menutup operasionalnya untuk hari itu karena alasan keamanan.

Beberapa jam kemudian, setelah agen federal tampak telah meninggalkan lokasi, situasi berangsur lebih tenang meski para demonstran masih bertahan dan melanjutkan aksi.

Respons Wali Kota dan Gubernur

Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, secara terbuka meminta agar operasi penegakan imigrasi pemerintahan Trump di negara bagian itu segera dihentikan.

"Berapa banyak lagi warga, berapa banyak lagi orang Amerika yang harus mati atau terluka parah agar operasi ini diakhiri?" kata Frey dalam konferensi pers.

Gubernur negara bagian Minnesota serta dua senator AS juga menyerukan agar agen federal ditarik keluar dari wilayah tersebut.

Trump, yang menurut seorang pejabat Gedung Putih telah mendapat laporan tentang penembakan ini, justru menuding para pejabat lokal memprovokasi situasi.

"Wali Kota dan Gubernur menghasut pemberontakan, dengan retorika mereka yang pongah, berbahaya, dan arogan," tulis Trump di media sosial.

Penembakan ini terjadi sehari setelah lebih dari 10.000 orang turun ke jalan di tengah cuaca dingin ekstrem untuk memprotes kehadiran sekitar 3.000 agen federal yang dikerahkan Trump ke Minnesota.

Kemarahan warga dipicu oleh sejumlah insiden sebelumnya, termasuk tewasnya warga negara AS bernama Renee Good, penahanan seorang warga negara AS yang dibawa dari rumahnya saat hanya mengenakan celana pendek, serta penahanan anak-anak sekolah, termasuk seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun.

Wakil Presiden JD Vance, yang mengunjungi Minneapolis pada Kamis, menulis di media sosial pada Sabtu bahwa agen ICE sebenarnya ingin bekerja sama dengan aparat penegak hukum setempat.

"Supaya situasi di lapangan tidak lepas kendali. Namun, kepemimpinan lokal di Minnesota sejauh ini menolak menjawab permintaan tersebut," tulis Vance.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Warganya Dibunuh Agen Imigrasi, Wali Kota Minneapolis Marah