Trump Bela Aksi Penembakan Fatal ke Warga AS, Bukti Video Berkata Lain
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membela penembakan fatal terhadap seorang warga negara AS oleh agen imigrasi federal di Minneapolis, meski rekaman video dari warga menunjukkan versi kejadian yang berbeda dengan pernyataan resmi pemerintah.
Saat warga mendatangi lokasi kejadian pada Minggu (25/1/2026) untuk meletakkan bunga dan lilin di sebuah tugu peringatan darurat di tengah suhu dingin dan salju, pejabat pemerintahan Trump menegaskan bahwa korban, Alex Pretti, menyerang petugas sehingga mereka terpaksa menembak untuk membela diri. Namun, klaim tersebut berseberangan dengan rekaman video yang beredar luas di media sosial dan diverifikasi oleh media.
Pretti menjadi warga negara AS kedua yang tewas ditembak oleh petugas imigrasi federal di Minneapolis dalam bulan ini. Sebelumnya, seorang perempuan bernama Renee Good juga tewas dalam insiden serupa.
Kedua peristiwa itu terjadi di tengah pengerahan ribuan agen bersenjata dan bermasker ke kota tersebut dalam operasi deportasi besar-besaran yang digagas Trump, sebuah langkah yang dinilai belum pernah terjadi sebelumnya.
Gubernur Minnesota Tim Walz, dari Partai Demokrat, kembali mendesak Trump untuk menarik seluruh agen federal dari wilayah negara bagian itu. Pemerintah negara bagian bahkan telah meminta hakim federal untuk membatasi apa yang mereka sebut sebagai tindakan berlebihan dan inkonstitusional dalam operasi imigrasi tersebut.
"Korban sebenarnya adalah agen Patroli Perbatasan," kata Gregory Bovino, pejabat senior Patroli Perbatasan, dalam wawancara dengan CNN di program State of the Union.
Pernyataan itu, yang juga digaungkan oleh Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem serta sejumlah pejabat pemerintahan Trump lainnya, memicu kemarahan luas dari para pemimpin Demokrat di tingkat lokal, aparat penegak hukum, serta anggota Kongres dari Partai Demokrat.
Mereka menunjuk rekaman video warga yang menunjukkan bahwa Pretti hanya memegang ponsel saat insiden terjadi, sebelum akhirnya dijatuhkan ke tanah dan ditembak dari jarak dekat.
Dalam beberapa pekan terakhir, agen federal kerap berhadapan dengan warga yang marah dan melakukan protes di jalan-jalan bersalju Minneapolis, sebagian di antaranya meniup peluit sebagai tanda peringatan.
Pada Minggu, ribuan orang kembali turun ke jalan, meneriakkan slogan dan mengibarkan poster bertuliskan "ICE OUT!" sebagai bentuk penolakan terhadap kehadiran aparat Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE).
Klaim Berbeda
Rekaman video penembakan pada Sabtu yang diverifikasi Reuters memperlihatkan Pretti, 37 tahun, sedang memegang ponsel, bukan senjata api, saat ia berusaha membantu demonstran lain yang sebelumnya didorong ke tanah oleh agen federal.
Dalam video tersebut, Pretti terlihat merekam situasi ketika seorang agen federal mendorong seorang perempuan dan menjatuhkan perempuan lainnya. Pretti kemudian berdiri di antara agen dan kedua perempuan itu, lalu mengangkat tangan kirinya untuk melindungi diri ketika agen menyemprotkan semprotan merica ke wajahnya.
Beberapa agen lalu memegang Pretti, yang terlihat berusaha melawan, dan memaksanya jatuh bertumpu pada tangan dan lutut. Saat para agen menekan tubuhnya ke tanah, terdengar seseorang berteriak memperingatkan soal senjata.
Rekaman selanjutnya tampak menunjukkan salah satu agen mengambil sebuah pistol dari area pinggang Pretti dan menjauh dari kerumunan sambil membawa senjata tersebut.
Beberapa saat kemudian, seorang agen mengarahkan pistol ke punggung Pretti dan menembakkan empat peluru secara cepat. Tembakan lain terdengar setelahnya, ketika agen lain tampak ikut melepaskan tembakan ke arah Pretti.
Darius Reeves, mantan kepala kantor lapangan ICE di Baltimore, mengatakan kepada Reuters bahwa kurangnya komunikasi di antara agen federal dalam video tersebut sangat mengkhawatirkan.
"Jelas tidak ada komunikasi di antara mereka, berdasarkan pengamatan saya terhadap cara tim itu merespons," kata Reeves.
Pejabat Minnesota menyebut Pretti memiliki izin sah dari negara bagian untuk membawa senjata api tersembunyi di tempat umum, yang telah ditegaskan sebagai hak konstitusional oleh Mahkamah Agung AS pada 2022.
Bukti Video
Kepala Kepolisian Minneapolis Brian O'Hara mengatakan kepada CBS dalam program Face the Nation bahwa "video berbicara dengan sendirinya" dan menyebut versi peristiwa yang disampaikan pemerintahan Trump sebagai sesuatu yang sangat mengganggu.
Ia menegaskan tidak menemukan bukti bahwa Pretti pernah mengacungkan senjata api.
Ketegangan di kota itu sebelumnya sudah meningkat sejak insiden 7 Januari, ketika agen imigrasi federal menembak mati Renee Good, seorang warga negara AS, setelah mendekatinya di dalam mobil yang sedang terparkir. Pejabat Trump mengatakan Good mencoba menabrak agen dengan kendaraannya, tetapi pengamat lain menyebut video warga justru menunjukkan Good sedang berusaha menjauh dari petugas yang menembaknya.
Aparat penegak hukum negara bagian dan lokal kini tengah menyelidiki apakah agen yang menembak Good melanggar hukum Minnesota. Departemen Kehakiman AS menarik diri dari kerja sama dalam penyelidikan tersebut, dan sedikitnya selusin jaksa federal dilaporkan mengundurkan diri sebagai protes terhadap cara Departemen Kehakiman menangani kasus Good.
Atas permintaan Minnesota, seorang hakim federal pada Sabtu malam mengeluarkan perintah sementara yang melarang pemerintahan Trump menghancurkan atau mengubah bukti apapun terkait penembakan Pretti.
Sejumlah pimpinan perusahaan besar Minnesota, termasuk Target, Cargill, dan Best Buy, menerbitkan surat terbuka yang menyerukan "deeskalasi segera ketegangan dan agar pejabat negara bagian, lokal, dan federal bekerja sama mencari solusi nyata".
Dalam pernyataan terpisah, mantan Presiden AS Barack Obama dan Bill Clinton mengecam keras kematian Good dan Pretti. Clinton menuduh pemerintahan Trump berbohong, sementara Obama mengatakan nilai-nilai Amerika sedang berada dalam ancaman.
"Ini harus dihentikan," kata Barack dan Michelle Obama.
Pretti diketahui bekerja sebagai perawat unit perawatan intensif di rumah sakit Veterans Affairs. Pada Minggu, lebih dari 200 tenaga kesehatan berkumpul di lokasi penembakannya, meninggalkan bunga dan berbagai bentuk penghormatan.
Seorang perempuan berseragam medis yang mengaku pernah bekerja bersama Pretti tak kuasa menahan tangis saat ditanya alasan datang ke lokasi tersebut.
"Dia penyayang dan baik hati," katanya, meminta identitasnya dirahasiakan karena takut mendapat balasan dari pemerintah federal. "Semua ini sama sekali tidak masuk akal."
Dalam konferensi pers Minggu, Jaksa Agung Minnesota Keith Ellison menceritakan pengalaman yang ia sebut berasal dari putranya yang berusia 31 tahun, juga seorang perawat.
"Ketika dia bekerja hari ini dan tadi malam, dia bilang, 'Rekan-rekan kami menangis, sangat terpukul, dan mereka merasakan ini sebagai serangan terhadap salah satu dari kami sendiri'," ujar Ellison.
Sementara itu, Trump tetap membela operasi imigrasi besar-besaran tersebut, dengan menyebutnya sebagai langkah yang diperlukan untuk menekan kejahatan dan menegakkan hukum imigrasi di Amerika Serikat.
Â
(luc/luc)[Gambas:Video CNBC]