Produksi Dipangkas, Segini Ramalan Harga Nikel

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Jumat, 23/01/2026 15:45 WIB
Foto: Bijih Besi (REUTERS/Beawiharta)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan harga nikel dunia akan mengalami kenaikan. Khususnya pasca pemerintah Indonesia memangkas produksi nikel pada tahun 2026 ini.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengungkapkan target harga yang diharapkan pemerintah di tengah tren kenaikan saat ini. Ia memperkirakan dan berharap harga nikel dapat bertengger stabil di kisaran US$ 19.000-20.000 per ton.

"Mudah-mudahan US$ 19-20 (ribu per ton) gitu lah," ujar Tri saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, dikutip Jumat (23/1/2026).


Menurut pantauannya, harga nikel sedang mengalami lonjakan. Menurutnya, meskipun grafik harga menunjukkan tren positif, kenaikan tersebut belum bisa dikategorikan sebagai lonjakan yang luar biasa drastis.

"Meroket amat juga enggak, naik," tambahnya meluruskan.

Kenaikan harga tersebut terjadi di tengah wacana pengendalian suplai melalui pemangkasan kuota produksi. Saat dikonfirmasi mengenai besaran pemangkasan produksi tahun ini yang sempat disebut-sebut berada di angka 260-an juta ton, Tri tidak menampik adanya pembahasan mengenai angka perkiraan tersebut dalam rencana pengelolaan pertambangan ke depan.

Selain mengurangi jumlah produksi, pemerintah juga mewajibkan industri-industri besar pemurnian nikel untuk menyerap bahan baku dari para pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) lokal. Hal itu tidak lain untuk menghilangkan praktik monopoli rantai pasok dan memastikan pengusaha daerah mendapatkan pasar yang pasti.

Meski tidak menyebutkan angka pasti berapa produksi nikel tahun 2026 ini, namun pemerintah berharap nantinya semua pihak bisa merasa untung, tidak hanya menguntungkan pengusaha besar, tetapi juga memberdayakan pengusaha nasional di daerah.


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Produksi Batu Bara dan Nikel Akan Dipangkas Pada 2026