Siap-Siap, Pedagang Takutkan Harga Daging Sapi Terbang ke Rp160.000
Jakarta, CNBC Indonesia - Pedagang daging sapi di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur mengungkapkan harga daging sapi bisa merangkak naik lagi hingga mencapai Rp160.000 per kg. Hal ini bisa terjadi jika pemerintah tidak melakukan intervensi harga daging sapi, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran Idulfitri 2026.
Berdasarkan pantauan, Jumat (23/1/2026), harga daging sapi di Pasar Kramat Jati saat ini berkisar Rp140.000-150.000 per kg.
Seorang pedagang daging sapi yang ditemui CNBC Indonesia di lokasi mengaku menjual harga daging sapi Rp140.000 per kg.
"Harga daging sekarang sih masih Rp140.000 ya, masih tinggi sih, tapi bisa sampai Rp160.000 seminggu sebelum Ramadan, kalau modalnya masih tinggi," kata pedagang yang tak mau disebutkan namanya itu.
"Harapannya sih harga dijaga segitu (Rp 140.000) ya, kalau bisa turun lagi. Cuma ya kalau kita nggak naikin, bagaimana kita mau jualan," tukasnya.
Lonjakan harga ini disebut sangat memungkinkan selagi pemerintah belum mengembalikan kestabilan harga pangan.
Pedagang lainnya juga mengungkapkan hal senada. Dia mengatakan, harga daging sapi bisa saja menyentuh Rp160.000 per kg beberapa hari menjelang Ramadan nanti.
"Sekarang di harga Rp140.000-150.000, bisa saja sih ke Rp160.000. Cuma kalau beneran naik segitu, kitanya yang makin rugi, karena pasti pembeli kabur," kata dia.
"Ya berharapnya sih jangan naik lagi ya, yang sekarang saja sudah lumayan tinggi, pembeli sepi, harapannya Ramadan ya stabil atau kalau bisa turun lah," jelasnya.
Sebelumnya, pemerintah, importir, feedloter, hingga pedagang eceran telah melakukan pertemuan agar alur distribusi tidak tersendat. Dari pertemuan itulah, disepakati sebuah patokan yang diharapkan memberi kepastian usaha bagi pedagang.
"Harga sapi siap potong timbang hidup di feedlot Rp55.000/Kg berlaku sejak hari Kamis, 22 Januari 2026 hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri Maret 2026," kata Ketua Umum Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI) Asnawi.
Kepastian harga di tingkat hulu ini akan langsung berdampak pada stabilitas harga di pasar.
Dengan ongkos bahan baku yang lebih terukur, pedagang memiliki ruang untuk kembali berjualan tanpa kekhawatiran merugi.
Di sisi lain, konsumen juga diharapkan tak lagi dibayangi lonjakan harga menjelang Ramadan dan Lebaran.
Tak berhenti di situ, Asnawi juga menegaskan, kesepakatan tersebut harus segera diikuti dengan pemulihan aktivitas perdagangan. Menurutnya, kelancaran distribusi daging sangat bergantung pada berfungsinya rumah potong hewan dan pedagang pasar secara serempak.
"Seluruh RPH/TPH, pelaku usaha bandar jagal, para pelaku pedagang daging eceran di pasar-pasar Se-Jabodetabek wajib beraktivitas kembali dan tidak ada lagi aksi mogok libur berdagang," tulis Asnawi.
(dce)