Tiba-Tiba Pedagang Minta Pemerintah Gelontorkan Daging Kerbau India
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga daging sapi di tingkat pedagang pasar terus melonjak. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Yayan Suryana menegaskan, dalam jangka pendek tak ada pilihan lain selain subsidi silang melalui pasokan daging kerbau beku dari India untuk menahan laju harga dan mencegah gejolak di pasar.
"Ya nggak ada jalan lain. Harus ada subsidi silang dari pemerintah, yaitu daging kerbau beku dari India. Itu langkah dalam jangka waktu dekat," kata Yayan kepada CNBC Indonesia, Kamis (8/1/2026).
Menurut Yayan, harga daging sapi segar di pasar saat ini sudah berada di kisaran Rp130.000-Rp140.000 per kilogram (kg). Angka tersebut bahkan telah melampaui level menjelang Lebaran tahun lalu, padahal Idul Fitri 2026 masih sekitar dua bulan lagi.
"Kami akan ngejual berapa ke konsumen, kan seperti itu," ujarnya.
Yayan menjelaskan, mahalnya harga daging di pasar tidak lepas dari tingginya harga di hulu. Harga karkas sapi saat ini sudah di kisaran Rp105.000-Rp107.000 per kg, sementara harga faktur atau timbang hidup sapi berada di Rp54.000-Rp55.000 per kg. Sedangkan harga faktur atau timbang hidup sapi pada momen Idul Fitri 2025 berada di angka Rp53.000 per kg.
"Berarti kan melebihi Idulfitri tahun 2025," ucap dia.
Ia menyebut, kondisi ini membuat pedagang berada dalam posisi sulit. Di satu sisi harga beli terus naik, di sisi lain daya beli masyarakat melemah.
"Daging ini kan menengah ke atas yang beli. Menengah ke bawah itu sangat susah. Mereka itu makan daging itu, mohon maaf ya, setahun itu mungkin 5-6 kali saja lah," tutur Yayan.
Dengan harga Rp130.000-Rp140.000 per kg, kata dia, masyarakat berpenghasilan rendah akan berpikir berulang kali untuk membeli daging di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja.
Di tengah tekanan harga tersebut, Yayan mengungkapkan upaya pedagang untuk mencari pasokan alternatif belum membuahkan hasil. APDI telah berkomunikasi dengan BUMN pangan, namun stok daging disebut masih kosong.
"Cuma kami menghubungi Berdikari, PPI, semuanya juga belum ada jawaban sampai detik hari ini," sebut dia.
Ia menambahkan, pihaknya bahkan sudah bertemu langsung dengan pimpinan BUMN tersebut.
"Kami sudah bertemu dengan Direktur Utama Berdikari, kami diminta kasih waktu. Stok dagingnya kosong, katanya Berdikari nggak ada," ucapnya.
Yayan menegaskan, opsi impor daging kerbau beku dari India menjadi satu-satunya solusi cepat yang realistis saat ini. Pasalnya, harga daging sapi saat ini tengah tinggi.
"Kalau kita berbicara sapi hidup nggak mungkin. Karena semuanya juga harganya lagi seperti ini. Nggak ada lagi jalan," tegas dia.
Sementara itu, untuk jangka panjang, Yayan menilai program swasembada daging tetap harus dijalankan, meski prosesnya tidak instan.
"Swasembada ini nggak semudah kita membalikkan telapak tangan. Karena butuh proses. Tapi kalau negara memang ada kebijakan itu sangat luar biasa, kami sangat mendukung sekali," ujarnya.
Namun, ia menekankan, tanpa langkah cepat dalam waktu dekat, tekanan harga daging berpotensi terus berlanjut dan memicu keresahan di tingkat pedagang maupun konsumen.
"Namun, dalam jangka waktu dekat ini kami meminta jalan yang terbaik, jangan sampai pedagang daging ini bergejolak lagi di bawah. Karena ini kan harga belum stabil," pungkas Yayan.
[Gambas:Video CNBC]