Pedagang Ungkap Masalah Daging Sapi di RI, Berulang Bak Sakit Menahun

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 22/01/2026 19:30 WIB
Foto: Suasana aktivitas penjualan daging sapi di Pasar Tebet Barat, Jakarta, Rabu (21/1/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi mogok jualan pedagang daging yang terjadi di sejumlah pasar tradisional dalam tiga hari ke depan bukan semata dipicu oleh persoalan di tingkat eceran. Di baliknya, terdapat tekanan panjang dari struktur pasokan nasional yang masih sangat bergantung pada luar negeri. Ketergantungan ini membuat pedagang berada di posisi lemah ketika gejolak global langsung merambat ke harga di dalam negeri.

"Lebih tinggi impor daripada pasokan lokal. kalau impor, itu kan tergantung dengan komoditi barangnya. Nah sekarang kita bicara sapi dan daging, sedangkan Amerika juga ambil impor sapi dan daging dari Australia, jadi saingan kita bukan negara biasa tapi adidaya," kata Ketua Umum (Ketum) Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI) Asnawi, Kamis (22/1/2026).

Kondisi ini membuat Indonesia tidak hanya berhadapan dengan negara pengekspor biasa, tetapi juga harus bersaing dengan kekuatan ekonomi besar dalam memperebutkan pasokan. Dalam situasi seperti itu, posisi tawar negara berkembang menjadi sangat terbatas. Ketika pasokan global mengetat, harga pun mudah terdorong naik tanpa bisa dikendalikan dari dalam negeri.


"Nah kebijakan Trump mengatakan kamu kasih, saya kasih kebijakan misal pajak fiskal masuk ke dalam negeri saya sekian loh. Kalau nggak kasih, berarti saya naikkan sekian persen, contohnya Brazil kan. Jadi kan disini persaingan global kan dalam bisnis, nah itu yang penyebabnya," kata Asnawi.

Persaingan ini tidak lagi semata soal dagang, tetapi juga sarat berdampak pada kebijakan fiskal antarnegara. Setiap perubahan sikap negara besar bisa langsung mengguncang pasar komoditas dunia. Dampaknya pun terasa hingga ke lapak pedagang daging di pasar tradisional Indonesia.

"Sekarang demand anggap tidak berubah, tetap. Tapi daya beli kita rendah. Berarti kan terjadi kejomplangan kan. Ditambah lagi kompetiternya bukan negara biasa, negara adidaya," kata Asnawi.

Ketimpangan inilah yang memperparah situasi di tingkat konsumen. Meski kebutuhan masyarakat relatif stabil, kemampuan membeli terus melemah. Akibatnya, tekanan harga makin sulit diserap oleh pasar domestik, dan pedagang kecil menjadi pihak pertama yang terkena imbas.

"Ditambah sekarang dolar Amerika fluktuatif. Terus harga beli perbandingan tahun 2025-2026 terjadi disparitas nilai. Terus tahun lalu harga US$ masih Rp16.325, sekarang Rp17.000. Nah disparitas nilai ini sudah jelas berpengaruh," ujar Asnawi.

Fluktuasi nilai tukar memperlebar jarak antara harga beli dan harga jual. Setiap pelemahan rupiah langsung menaikkan ongkos impor, sementara ruang menaikkan harga di pasar sangat terbatas. Dalam kondisi ini, pedagang tak punya banyak pilihan selain menahan margin atau menghentikan aktivitas jual beli.

"Terus kondisi ini selalu berulang-ulang setiap tahun. Kalau memang ini sesuatu kondisi objek yang berulang-ulang. Berarti kan kita sudah didikte oleh negara eksportir. Lu mau, jual. Enggak, ya sudah. Lu mau, silahkan beli. Enggak ya sudah. Karena negara kita nggak memaksa kalian beli."

Situasi yang berulang membuat pedagang menilai persoalan ini bukan lagi insidental, melainkan struktural. Ketergantungan pada pasokan luar membuat Indonesia berada pada posisi reaktif, bukan pengendali pasar. Selama pola ini tak berubah, gejolak harga diperkirakan akan terus menjadi cerita tahunan.

"Solusinya produksi dalam negeri harus ditingkatkan. Salah satu peningkatan produksi dalam negeri. Karena produksi kita menurun, rendah, dan delay," ujarnya.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pedagang Sapi Mulai Setop Jualan