Nasib Pedagang Daging Sapi 'Terjepit' oleh Emak-Emak dan Pemasok

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 22/01/2026 16:20 WIB
Foto: Suasana aktivitas penjualan daging sapi di Pasar Tebet Barat, Jakarta, Rabu (21/1/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi mogok jualan para pedagang daging di sejumlah pasar tradisional pada hari ini termasuk di Jakarta, bukan tanpa alasan. Para pedagang berada dalam situasi serba salah, sering diprotes konsumen karena harga naik dan tertekan pemasok atau feedloter yang menaikkan harga.

"Ketika itu turun, kita turunkan harganya. Ketika naik, untuk menaikkan tuh nggak mudah, Nggak mudah," kata Ketua Umum Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI) adalah Asnawi kepada CNBC Indonesia, Kamis (22/1/2026).

Artinya harga daging di tingkat pedagang tidak bisa dinaikkan secara semaunya. Setiap perubahan harga selalu diiringi risiko kehilangan pelanggan. Di sisi lain, pedagang juga harus menyesuaikan dengan harga beli yang mereka terima dari pemasok. Di Jakarta, harga daging di pasar tradisional ada yang dijual Rp 140 ribu per kg.


"Nah sekarang pedagang, kita berhadapan dengan konsumen, emak-emak di pasar sebagai garda terdepan. berhadapan dengan konsumen juga, konsumen ya nggak mau tahu, bilangnya, parah lu kemarin naik, sekarang naik lagi. Lu yang naikkan sendiri ya, cari untung sendiri. Di-blacklist kan kita," kata Asnawi.

Ketegangan di lapangan pun tak terelakkan, terutama ketika emosi konsumen meledak karena harga yang dianggap tak masuk akal. Pedagang yang seharusnya hanya menjadi perantara justru dituding sebagai biang kerok kenaikan harga. Stigma itu membuat posisi mereka makin terjepit, karena kehilangan kepercayaan berarti kehilangan nafkah.

"Sekarang kita berpikir lagi. Kita pedagang kecil, nggak bisa punya stok. Yang punya stok itu modal besar. Yang punya sapi modal besar. Kita kan nggak punya sapi. Jadi yang bermain siapa nih? Saya sekarang beli sapi di sana. Di sana udah mahal, yang mau nombokin siapa? Jadi serba salah," sebutnya.

Realitas inilah yang kerap luput dari perhatian publik, bahwa pedagang kecil tak memiliki daya tawar besar di rantai pasok. Mereka membeli dalam kondisi harga sudah tinggi, tetapi dituntut menjual dengan harga rendah. Ketika margin semakin tipis, pilihan yang tersisa hanya menutup lapak atau menanggung rugi.

Di sisi lain, turunnya daya beli memperparah tekanan yang sudah ada sebelumnya. Konsumen membeli lebih sedikit, perputaran uang melambat, dan pedagang makin sulit bertahan. Dalam situasi seperti ini, mogok jualan bukan lagi sekadar protes, melainkan jeritan agar masalah di sektor daging dilihat secara lebih adil dari hulu hingga hilir.

"Sekarang ini daya beli rendah lagi rendah, jadinya kalaupun beli ya karena keterpaksaan. Tadinya dia mau beli 1 Kg. Karena uangnya nggak ada. Belilah 2 ons, 200 gram. Jadi dikurangi porsi belinya," katanya.

Mogok Tak Berlanjut

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman memastikan, para pedagang daging sapi di pasar tradisional akan kembali berjualan lagi besok, Jumat (23/1/2026), setelah sempat terjadi aksi mogok di Kamis hari ini.

Amran mengatakan, kesepakatan sudah dicapai dalam pertemuan yang dilakukan pihaknya. Ia menegaskan seluruh pihak telah sepakat akan menjalankan aturan yang berlaku.

"Tadi sudah sepakat harus berjalan sesuai regulasi yang ada, sudah sepakat tadi," kata Amran dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (22/1/2026).


(hoi/hoi)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pedagang Daging Jabodetabek Mogok Berjualan