Waspada! Survei WEF Ungkap 5 Risiko Seram Buat Indonesia

haa, CNBC Indonesia
Senin, 19/01/2026 07:25 WIB
Foto: Monas (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Laporan The Global Risks Report 2026 yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) membeberkan lima masalah yang mungkin dihadapi Indonesia dalam dua tahun ke depan atau 2026-2028. Sebagai catatan, laporan ini berasal dari Executive Opinion Survey 2025 yang menjaring pandangan dari para pimpinan bisnis global.

Lima masalah tersebut yakni kurangnya kesempatan ekonomi atau pengangguran utamanya di usia muda dan tidak memadainya pelayanan publik dan perlindungan sosial, termasuk pendidikan, infrastruktur, dan pensiun.


Selanjutnya, dampak buruk dari teknologi kecerdasan buatan (AI); kemerosotan ekonomi seperti resesi atau stagnasi; dan terakhir adalah inflasi.

"Kurangnya kesempatan ekonomi atau pengangguran dapat mendorong ekstremisme; ketidakpercayaan terhadap institusi terkait erat dengan misinformasi dan disinformasi; dan pengawasan dalam rangka memperkuat respons otoriter terhadap ketidakstabilan yang diciptakan oleh AI," tulis WEF dalam laporannya, dikutip, Senin (19/1/2026).

Adapun, kondisi kurangnya kesempatan ekonomi dan pengangguran akan memicu kemerosotan struktural prospek kerja atau standar kerja dan/atau hambatan terus-menerus terhadap realisasi potensi dan keamanan ekonomi.

Ini juga akan menimbulkan erosi hak-hak pekerja, stagnasi upah, peningkatan pengangguran dan kurangnya lapangan kerja dan perpindahan akibat otomatisasi atau transisi hijau, serta stagnasi mobilitas sosial. Kondisi ini juga akan memicu akses yang tidak setara terhadap peluang pendidikan, teknologi, dan ekonomi.

Menurut WEF, tidak memadainya pelayanan publik dan perlindungan sosial mencakup tidak adanya, tidak memadai atau tidak adilnya jaminan sosial dan tunjangan yang tidak terjangkau atau tidak memadai; perumahan; pendidikan publik; perawatan anak dan lansia; perawatan kesehatan; sistem sanitasi dan transportasi; dan sistem pensiun.

WEF pun mengingatkan kondisi ini dapat memperlebar ketimpangan dan memicu guncangan ekonomi. Selanjutnya, risiko dampak buruk terhadap AI membayangi hampir banyak negara, termasuk Indonesia.

"Konsekuensi negatif yang disengaja atau tidak disengaja dari kemajuan AI dan kemampuan teknologi terkait (termasuk AI generatif) terhadap individu, bisnis, ekosistem, dan/atau ekonomi," tegas WEF dalam laporannya.

Sementara itu, kemerosotan ekonomi ini risiko yang dihadapi secara global. tTidak hanya Indonesia, risiko ini menjadi yang pertama bagi China. Menurut WEF, pertumbuhan global mendekati nol atau lambat yang berlangsung selama beberapa tahun, atau kontraksi global (resesi atau depresi).

Terakhir, risiko inflasi diperkirakan menghantui Indonesia. Kenaikan harga barang dan jasa yang berkelanjutan berisiko terjadi dan membuat sebagian besar masyarakat tidak mampu mempertahankan gaya hidupnya karena daya beli yang menurun.

Lebih lanjut, secara menyeluruh, laporan WEF memperlihatkan risiko utama yang membayangi dunia adalah konfrontasi geoekonomi. Konfrontasi geoekonomi menjadi risiko utama yang paling mungkin memicu krisis global yang signifikan pada tahun 2026.

Adapun, risiko terbesar kedua adalah konflik bersenjata berbasis negara.

"Di dunia yang sudah melemah akibat meningkatnya persaingan, rantai pasokan yang tidak stabil, dan konflik berkepanjangan yang berisiko meluas ke wilayah lain, konfrontasi semacam itu membawa konsekuensi global yang sistemik, disengaja, dan luas, serta meningkatkan kerapuhan negara," tulis WEF.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Protes Meluas, Tekanan Ekonomi Guncang Iran