MARKET DATA

Perang Gak Beres-beres-Dunia Makin Kacau, Ini Ramalan Terbaru IMF!

Arrijal Rachman,  CNBC Indonesia
20 January 2026 09:45
Logo Dana Moneter Internasional (IMF). (REUTERS/Yuri Gripas/File Photo)
Foto: REUTERS/Yuri Gripas

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional alias IMF memperbarui ramalan ekonominya untuk 2026-2027. Pertumbuhan dunia mereka perkirakan akan stagnan, diiringi terus melemahnya tekanan inflasi hingga merosotnya volume perdagangan dunia.

Dalam World Economic Outlook (WEO) Update edisi Januari 2026, IMF memperkirakan, pertumbuhan ekonomi untuk 2026 akan berada pada level 3,3%, tak berubah dari estimasi pertumbuhan 2025 sebesar 3,3% dan 2024 yang juga di level 3,3%. Namun, untuk 2027, ekonomi global IMF perkirakan turun ke level 3,2%.

"Risiko terhadap prospek ekonomi global tetap condong ke arah penurunan," dikutip dari outlook IMF terbaru, Selasa (20/1/2026).

Tekanan terhadap perekonomian dunia IMF perkirakan masih akan terjadi akibat efek ketidakpastian kebijakan ekonomi dan kebijakan perdagangan yang rapuh di berbagai negara, konflik geopolitik, hingga kondisi pasar keuangan yang juga sangat rentan.

Namun, efek pengungkitnya yang bisa menjaga daya tahan pertumbuhan ekonomi global terletak pada stimulus fiskal yang kini makin gencar dilakukan banyak negara, termasuk arah kebijakan moneter yang akomodatif. Ditandai dengan penerapan kebijakan suku bunga acuan bank sentral yang rendah.

"Ketahanan yang ditunjukkan sejauh ini sebagian besar didorong oleh beberapa sektor dan sering kali didukung oleh akomodasi moneter dan fiskal," kata tim IMF.

"Hal ini dapat terganggu oleh dinamika sektoral atau guncangan yang menyebar dari faktor risiko yang lebih luas dan telah berlangsung lama," tegas mereka.

Alasan pengungkit ini yang membuat IMF sedikit merevisi ke atas sebesar 0,2% poin proyeksi ekonomi 2026, dibanding proyeksi untuk tahun itu yang dilakukan pada Oktober 2025. Namun, tak mengubah prospek untuk 2027.

Prospek itu turut mempertimbangkan kebijakan tarif resiprokal yang dilakukan oleh AS kepada negara-negara mitra dagang utamanya yang juga masih tertahan, bahkan sudah ada yang memperoleh penurunan tarif bea masuk perdagangan itu untuk sejumlah komoditas.

Di sisi lain, prospek investasi akan cenderung tetap kuat, terutama di sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kawasan negara-negara maju dan Asia.

"Tingkat tarif efektif AS yang mendasari proyeksi adalah 18,5%, dibandingkan dengan 18,7% dalam perkiraan Oktober. Tingkat tarif efektif yang sesuai untuk seluruh dunia tidak berubah pada 3,5%," tulis tim ekonom IMF dalam laporan terbarunya itu.

Kendati begitu, faktor pengungkit yang mereka sebutkan itu bersifat rapuh. Ini yang mendasari IMF memperkirakan volume perdagangan global malah akan merosot pada 2026 meski ada peningkatan pada 2027. IMF memperkirakan, pertumbuhan volume perdagangan dunia akan menurun dari 4,1% pada 2025 menjadi 2,6% pada 2026 dan meningkat menjadi 3,1% pada 2027.

Sementara itu, untuk tekanan inflasi mereka perkirakan akan terus menurun, melanjutkan kondisi pada 2025 yang turun ke level 4,1% dari posisi di 2026 sebesar 5,8%. Berlanjut pada 2026 menjadi hanya 3,8% dan pada 2027 di level 3,4%.

"Hal ini praktis tidak berubah dari data WEO Oktober 2025, dengan tren utama berupa penurunan permintaan dan harga energi yang lebih rendah tetap sama," kata IMF.

(arj/mij)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Terbaru! OECD Revisi ke Atas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 4,9%


Most Popular
Features