Pengusaha-Serikat Pekerja Respons Rencana Bangun BUMN Tekstil Rp100 T

Robertus Andrianto & Damiana, CNBC Indonesia
Kamis, 15/01/2026 13:50 WIB
Foto: Ilustrasi pabrik benang (Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berencana membangun pabrik tekstil. Bahkan, menurut Menko bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pemerintah akan menyiapkan dana sebesar US$6 miliar atau sektar Rp100,5 triliun (dengan kurs Rp16.750 pada Rabu, 14/1/2025) untuk memmbangun BUMN tekstil tersebut.

Bagaimana pengusaha dan pekerja merespons rencana investasi pemerintah ini?

Baik Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta maupun Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi mengaku belum mengetahui informasi detail mengenai rencana pemerintah itu.


Dikatakan, diskusi dengan pemerintah hingga saat ini masih hanya membahas permasalahan yang dihadapi industri tekstil nasional dan upaya solusi yang dibutuhkan.

"Untuk menjaga industri tekstil agar tetap survive, pembentukan BUMN baru bisa jadi opsi. Tapi juga harus dibarengi dengan perbaikan iklim industrinya," kata Redma kepada CNBC Indonesia, Kamis (15/1/2025).

Masuk ke Hulu Terintegrasi

Dia juga berharap, pemerintah membangun industri tekstil baru di hulu. Yang diharapkan bisa jadi kekuatan Indonesia untuk memangkas impor bahan baku.

"Kami berharap ada bisa di sektor hulu, yang terintegrasi dengan petrokimianya agar kita tidak bergantung pada impor. Kalau targetnya ekspor, perlu BUMN di hilir. Tapi, kalau ada juga target substitusi impor maka perlu diperkuat di hulu. Kami belum dapat info detailnya dari Kemenko," sebut Redma.

"Kalau versi analisis kami, kalau mau target substitusi impor sekalian ekspornya di atas US$40 miliar, diperlukan investasi sekitar Rp2.000 triliun. Ini akan meningkatkan kontribusi terhadap PDB-nya dari saat ini yang hanya 0,9% menjadi 3,5%," tambah Redma.

Dengan target besar itu, sambungnya, investasi senilai Rp100 triliun oleh BUMN hanya akan berdampak kecil.

"Lebih baik Rp100 triliun ini dijadikan insentif untuk mendorong investasi hingga Rp1.000 triliun," ujarnya.

Terpisah, Presiden KSPN Ristadi berharap, rencana dan upaya pemerintah membangun industri tekstil baru dapat berjalan lancar. Yang diharapkan bakal membuka lapangan kerja baru di Indonesia.

"Mudah-mudahan lancar. Teknologi mesinnya modern, SDM bagus, bahan baku stabil dan kompetitif, nggak ada pungli. Bisa bersaing dengan produk luar negeri. Sehingga, BUMN tekstil tidak asal berdiri, tapi hasil produksinya juga bisa laku terjual," katanya.

"Kalau produknya kalah saing, nggak laku, ya nggak bertahan lama, mati lagi. Seperti BUMN tekstil sebelumnya," tukas Ristadi.

Di sisi lain, Ristadi menyoroti jalan panjang Indonesia menyelamatkan industri tekstil nasional, setop pemutusan hubungan kerja (PHK), dan demi kemandirian sandang nasional.

Sebagaimana, bebernya, ketika Presiden Prabowo mengumpulkan Menteri Investasi/ CEO Danantara, Menperin, Menkeu, dan Mendag, membahas rencana kebijakan pengetatan impor produk tekstil, melarang impor pakaian bekas, pengenaan bea masuk tambahan atas impor kain tenun kapas, mengalokasikan dana Rp101 triliun untuk peremajaan teknologi mesin tekstil. Serta, rencana membentuk BUMN tekstil baru.

Alasan Pemerintah Bangun BUMN Tekstil Baru

Menko Airlangga mengatakan, dengan investasi ini, Indonesia ditargetkan jadi pemain kelima di sektor industri tekstol dunia.

"Dan pemerintah telah melakukan studi untuk ini. Dan kami akan memberikan insentif tertentu, termasuk dalam barang modal, teknologi baru, ekspor, proyek substitusi impor," papar Airlangga di Jakarta, Rabu (14/1/2025).

"Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali sehingga pendanaan US$6 miliar nanti akan disiapkan oleh Danantara. Nah kita ketahui memang kelemahan kita berada pada value chain yang di tengah yaitu tekstil dalam produksi benang, dalam produksi kain, printing, dan finishing," ungkapnya.

Dengan strategi ini, Indonesia akan meningkatkan ekspornya dari US$ 4 miliar menjadi US$ 40 miliar dalam kurun waktu 10 tahun.

"Dan Indonesia akan menjadi pemain kelima dalam lanskap tekstil ini," ujar Airlangga.


(dce/dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ekspor Industri Manufaktur Indonesia Bisa Tertekan