Airlangga Bagikan Kabar Terbaru Pembentukan BUMN Tekstil
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan perkembangan terbaru terkait rencana pembentukan BUMN disektor tekstil. Airlangga menyebut saat ini pemerintah masih berdiskusi terkait penyediaan pendanaan.
"Kita bicara penyediaan pendanaan untuk restrukturisasi mesin," kata Airlangga, di Kompleks Istana Kepresidenan, dikutip Kamis (11/2/2026).
Hanya saja Airlangga masih belum membeberkan detail mengenai rencana ini. "Masih dalam proses, nanti kia lihat," kata Airlangga.
Sebelumnya Airlangga juga sempat menjelaskan bahwa pembentukan BUMN ini supaya menjadikan Indonesia pemain kelima terbesar di dunia di industri tekstil. Bahkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara juga sudah menyiapkan pendanaan untuk membangun perusahaan ini.
"Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali sehingga pendanaan US$6 miliar nanti akan disiapkan oleh Danantara. Nah kita ketahui memang kelemahan kita berada pada value chain yang di tengah yaitu tekstil dalam produksi benang, dalam produksi kain, printing, dan finishing," ungkapnya.
Dengan strategi ini, Indonesia akan meningkatkan ekspornya dari US$ 4 miliar menjadi US$ 40 miliar dalam kurun waktu 10 tahun.
"Dan Indonesia akan menjadi pemain kelima dalam lanskap tekstil ini," ujar Airlangga.
Ada Penolakan
Hanya saja rencana pembangunan BUMN tekstil ini menuai sorotan tajam dari DPR RI. Sejumlah anggota Komisi VI DPR mengingatkan agar pemerintah agar tidak gegabah menggelontorkan dana besar tanpa pembenahan mendasar, terutama di sisi regulasi dan perlindungan industri dalam negeri.
Anggota Komisi VI DPR RI I Nengah Senantara menyoroti derasnya serbuan produk tekstil impor asal China yang dinilai menekan industri dalam negeri. Ia menyebut, saat ini hampir seluruh produk pakaian di pasar domestik dikuasai barang impor, dengan porsi China mencapai 90%.
"Seperti yang terjadi sekarang, hampir semua tekstil pakaian itu sudah dikuasai oleh produk China. 90% China yang menguasai. Dengan berbagai macam standar, harganya sangat murah, kualitasnya juga memadai," kata Senantara dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR RI, dikutip (7/2/2026).
Ia menilai banjir impor tersebut menjadi salah satu pemicu utama runtuhnya industri tekstil nasional hingga memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurutnya, persoalan utama terletak pada regulasi yang tidak sinkron antar kementerian.
"Nah yang saya pahami kenapa tekstil ini bangkrut, PHK ada di mana-mana, penyebab utamanya regulasinya. Regulasi antara kementerian yang satu dengan kementerian yang lainnya tidak nyambung. Ada yang menginginkan mendorong adanya produksi lokal, tetapi di sisi lain kementeriannya membuka impor selebar-lebarnya," ujarnya.
Dia pun menyoroti rencana investasi hampir Rp100 triliun di sektor tekstil yang harus dijaga dengan kebijakan yang tepat. "Itu uangnya rakyat. Tentu harus dipertanggungjawabkan," tegas dia.
(haa/haa)[Gambas:Video CNBC]