Penjualan Mobil Turun 7%, Daya Beli Melemah Jadi Sorotan Bos Otomotif
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri otomotif nasional menutup tahun 2025 dengan catatan kurang menggembirakan. Total penjualan mobil secara wholesales tercatat hanya sekitar 803 ribu unit untuk seluruh merek dan jenis kendaraan.
Angka ini menunjukkan kontraksi sekitar 7% dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa tekanan ekonomi masih membayangi sektor kendaraan bermotor.
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto menilai, pelemahan daya beli masyarakat menjadi faktor utama yang menahan laju penjualan. Ia menyebut kondisi pendapatan per kapita Indonesia yang masih berada di kisaran US$5.300 turut memengaruhi kemampuan masyarakat dalam membeli kendaraan baru.
"Kalau kita lihat tahun lalu dibanding 2024 memang ada penurunan sekitar 7%. Total penjualan hanya sekitar 803 ribu unit. Penyebab utamanya tentu daya beli masyarakat yang menurun," ujar Jongkie dalam CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, dikutip Kamis (12/2/2026)
Meski demikian, penurunan tersebut tidak berlangsung merata di seluruh segmen. Pasar kendaraan dengan harga di bawah Rp300 juta masih relatif bertahan, bahkan mengalami pergeseran minat dari mesin pembakaran internal ke kendaraan elektrifikasi seperti hybrid dan plug-in hybrid.
Menurut Jongkie, segmen kendaraan di atas Rp300 juta justru mengalami tekanan paling besar. Pasar mobil premium semakin menyempit seiring kehati-hatian konsumen dalam membelanjakan dana besar untuk barang yang masih dianggap mewah.
Apalagi pasar otomotif Indonesia masih didominasi pembeli yang sangat sensitif terhadap harga. Hal ini membuat produsen harus berhitung cermat dalam menentukan strategi produk dan penetapan harga agar tetap kompetitif.
"Mobil di atas Rp300 juta itu pasarnya kecil dan penurunannya sangat terasa. Yang di bawah Rp300 juta masih lumayan, hanya terjadi pergeseran dari bensin ke hybrid atau listrik," kata Jongkie.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa transisi teknologi kendaraan di Indonesia tidak sepenuhnya didorong oleh kesadaran lingkungan, melainkan pertimbangan efisiensi biaya dan harga jual yang lebih terjangkau bagi konsumen.
Selain daya beli, faktor kebijakan fiskal juga berperan dalam dinamika penjualan tahunan. Menjelang akhir 2025, lonjakan pembelian sempat terjadi akibat berakhirnya kebijakan subsidi PPN kendaraan listrik, yang memicu konsumen melakukan pembelian lebih cepat.
Namun, lonjakan tersebut dinilai bersifat sementara dan tidak cukup kuat untuk menahan tren penurunan sepanjang tahun. Industri kini menaruh perhatian besar pada potensi kebijakan insentif baru yang tengah ditunggu pelaku usaha.
"Faktor harga itu sangat dominan di Indonesia. Mobil masih dianggap barang luxury. Jadi orang berpikir berkali-kali sebelum membeli," ujar Jongkie.
(hoi/hoi)[Gambas:Video CNBC]