Bukan Minyak! Trump Incar "Senjata Rahasia" Venezuela, Bisa Saingi RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Cadangan minyak mentah raksasa Venezuela memang selalu menjadi sorotan utama dunia. Namun, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang kini menegaskan kontrol atas sumber daya negara Amerika Latin tersebut pascatumbangnya Nicolás Maduro, muncul satu komoditas strategis yang diprediksi bakal menjadi "senjata rahasia" baru AS dalam perang dagang melawan China, yakni Bauksit.
Bauksit bukan sekadar tanah merah biasa. Ini adalah bahan baku utama aluminium dan sumber komersial utama Gallium, material kritis yang digunakan dalam pembuatan semikonduktor canggih, radar militer, satelit, hingga kendaraan listrik (EV).
"Pemerintah AS mengambil gambaran besar di Venezuela terkait sumber daya energi dan mineral," ujar Dr. Carlos Solar, peneliti senior keamanan Amerika Latin di Royal United Services Institute (RUSI) London, dikutip dari Newsweek, Rabu (14/1/2026).
Saat ini, rantai pasok aluminium global didominasi oleh China. Negeri Tirai Bambu tersebut menguasai lebih dari separuh kapasitas produksi dan pemurnian aluminium dunia. Dominasi ini menciptakan kerentanan strategis bagi Washington, mengingat Beijing kerap menggunakan kontrol mineral sebagai alat geopolitik.
Lebih krusial lagi, China hampir memonopoli pasar Gallium global. Departemen Pertahanan AS menilai ketergantungan ini sebagai ancaman keamanan nasional karena Gallium sangat dibutuhkan untuk teknologi jet tempur dan senjata hipersonik.
Venezuela diyakini memiliki cadangan bauksit yang sangat besar, meski selama ini "tertidur" akibat krisis ekonomi. Laporan pemerintah Venezuela tahun 2018 memperkirakan cadangan bauksit negara itu mencapai 321,35 juta metrik ton.
Selama satu dekade terakhir, perusahaan-perusahaan China yang didukung pendanaan negara telah berinvestasi besar-besaran di tambang bauksit Guinea (Afrika), Asia Tenggara (termasuk Indonesia), hingga Australia.
Langkah China membangun smelter alumina di Indonesia setelah larangan ekspor bijih mentah juga merupakan bagian dari strategi mereka untuk mengunci pasokan global.
Jika AS berhasil mengaktifkan kembali industri bauksit Venezuela, hal ini secara teoritis dapat mendiversifikasi sumber pasokan dan menghapus salah satu tuas pengaruh utama Beijing terhadap Washington.
Meski memiliki potensi besar, memulihkan industri tambang Venezuela bukan perkara mudah. Produksi bauksit negara itu anjlok tajam dari tahun ke tahun akibat salah urus dan kurangnya investasi.
Data US Geological Survey (USGS) menunjukkan Venezuela hanya memproduksi 250.000 metrik ton bauksit pada tahun 2021, angka yang sangat kecil dibandingkan potensi aslinya.
"Eksploitasi bauksit di Venezuela menderita karena salah urus dan kurangnya kapasitas operasional," tambah Solar. "Butuh waktu beberapa tahun dengan investasi besar untuk menjadikan industri bauksit Venezuela sebagai kontributor signifikan bagi ekonomi AS."
(tps/luc)