Strategi "Senyap" Israel: Mengapa Netanyahu Bungkam Saat Iran Membara?
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah gelombang protes besar-besaran yang mengguncang rezim Iran, satu negara yang dianggap paling diuntungkan justru memilih untuk tetap berada di balik layar. Israel, rival utama Iran di kawasan, kini enggan melakukan intervensi meski posisi musuhnya itu berada di titik paling rentan dalam beberapa tahun terakhir.
Setelah berbulan-bulan melontarkan ancaman publik terhadap Teheran, Israel tiba-tiba menjadi "tenang". Tel Aviv memilih untuk memantau perkembangan gerakan protes sembari memberi ruang bagi Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, untuk menentukan langkah strategisnya sendiri.
Berdasarkan sumber yang mengetahui masalah ini, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah mengadakan beberapa konsultasi keamanan terkait situasi di Iran dalam beberapa hari terakhir. Namun, pemimpin yang sempat melancarkan serangan kejutan ke Iran musim panas lalu itu justru menginstruksikan para menterinya untuk menghindari pernyataan publik.
"Instruksi keseluruhannya adalah tetap tenang," ujar seorang pejabat Israel kepada CNN, dikutip Rabu (14/1/2026). "Pemahamannya adalah jika kita menyentuhnya (situasi tersebut), kita hanya akan mengganggu."
Padahal, di awal protes, Menteri Sains Gila Gamliel sempat mengunggah foto dirinya di media sosial X menggunakan topi bertuliskan "Make Iran Great Again" dan menandai putra mahkota terakhir Iran, Reza Pahlavi. Sejak saat itu, Kantor Perdana Menteri telah memberikan teguran setidaknya dua kali kepada para menteri untuk tetap diam.
Sikap hati-hati Israel ini didasari oleh logika strategis. Protes yang bermula dua minggu lalu akibat inflasi yang meroket telah berubah menjadi demonstrasi luas melawan rezim di lebih dari 180 kota. Pemerintah Iran sendiri mulai mencoba mengalihkan perhatian dengan menuduh AS dan Israel sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut.
Intervensi Israel saat ini justru berisiko memberikan apa yang paling dibutuhkan Teheran: alasan untuk mengalihkan kesalahan dari masalah domestik ke musuh asing.
"Dari sudut pandang Israel, ini bukan waktu yang tepat untuk campur tangan," kata seorang mantan pejabat senior keamanan Israel. "Tidak ada alasan untuk mengganggu pelemahan internal rezim atau memberinya dalih untuk menggalang dukungan domestik."
Meski para politisi bungkam, tensi di dalam negeri Israel tetap tinggi. Ingatan akan serangan rudal balistik Iran pada perang 12 hari bulan Juni lalu masih membekas.
Beberapa kotamadya di Israel tengah telah menginformasikan warga bahwa tempat perlindungan bom tetap dibuka sebagai tindakan pencegahan. Namun, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) berusaha meredam kekhawatiran akan serangan segera.
"Protes di Iran adalah masalah internal. Kami terus melakukan penilaian situasi secara berkala dan akan memberikan pembaruan jika ada perubahan," tegas juru bicara IDF, Brigjen Effie Defrin.
Situasi di Iran juga mempersulit perencanaan militer Israel. Sebelumnya, pemerintahan Netanyahu sangat khawatir akan aktivitas rudal balistik Iran dan upaya Teheran mempersenjatai kembali Hizbullah di Lebanon.
Sima Shine, peneliti senior di Institute for National Security Studies (INSS) sekaligus mantan petinggi Mossad, menyebut bahwa protes ini secara efektif membuat rencana serangan Israel ke Iran "tertunda".
Namun, ia memperingatkan bahwa situasi bisa berubah drastis jika Trump memutuskan tindakan militer yang memicu pembalasan Iran terhadap Israel.
"Sangat wajar bagi Israel untuk lebih memilih Washington yang memimpin. Tidak ada alasan bagi Israel untuk campur tangan sementara Presiden Trump sendiri sedang menilai opsi dan merencanakan langkah selanjutnya," jelas Shine.
(tps/luc)[Gambas:Video CNBC]