MBG Libur, Harga Ayam di Peternak Ambruk
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga ayam hidup di tingkat peternak dilaporkan anjlok sejak akhir Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026 ini. Peternak menilai salah satu pemicunya adalah berkurangnya penyerapan saat program Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat libur, sehingga pasokan ayam di kandang tidak terserap optimal dan stok menjadi berlebih.
Peternak dari Persatuan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), Asep Saepudin, menyebut penurunan harga terjadi sejak 24 Desember 2025 dan terus berlanjut hingga saat ini, khususnya di wilayah Banten dan Jawa Barat.
"Iya, posisi harga ayam di tingkat peternak sudah menyentuh.. hari ini di Rp16.000-Rp17.000 per kg di kandang ayam. Harga ini turun terus dari tanggal 24 Desember 2025 kemarin, sampai hari ini terjadi penurunan, khususnya wilayah Banten, Jawa Barat," ungkap Asep kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/1/2026).
Asep menduga turunnya harga ayam hidup di kandang berkaitan dengan libur sekolah yang membuat pasokan yang biasanya diperuntukan program MBG jadi tidak terserap. Di sisi lain, ia menyebut harga daging ayam di tingkat pengecer masih terpantau stabil tinggi.
"Penurunan harga terjadi semenjak libur-nya MBG. Padahal, di tingkat pengecer masih stabil tinggi harga daging ayam," ujarnya.
Menurut Asep, harga ayam hidup saat ini jauh dari kondisi normal. Ia mengatakan harga ideal berada di kisaran Rp23.000 per kilogram.
"Normal nya Rp23.000 per kg," sebut dia.
Ia juga menegaskan harga yang berlaku saat ini sudah berada di bawah harga pokok produksi (HPP) peternak. Asep menyebut HPP peternak berada di angka Rp21.500 per kg.
"HPP kita di Rp21.500 per kg ,sekarang harga jauh di bawah HPP," ucapnya.
Foto: Peternak Ayam Petelur (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)Madali (52) memberi pakan ayam petelur di kawasan Tangerang Selatan, Selasa (12/10/2021). Peternak ayam petelur terus mengeluh dari harga Rp. 23.000/kg menjadi Rp. 18.000/kg, mereka mengeluarkan penurunan harga tidak sesuai dengan biaya pakan. Madali memiliki 800 ekor ayam negeri dan 800 ekor ayam kampung. Berdasarkan catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, rata-rata harga telur ayam ras segar secara nasional pada 8 Oktober 2021 adalah Rp.23.000/kg tutun 2,52% dibandingkan posisi sebulan sebelumnya. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) |
Selain itu, Asep menilai ada tekanan pasar yang terjadi di tingkat broker. Menurutnya, kondisi ini terjadi karena stok di tingkat peternak berlebih, sehingga menjadi celah untuk menekan harga jual.
"Sepertinya ini ada tekanan pasar di tingkat broker," kata Asep.
Saat ditanya lebih lanjut terkait tekanan di tingkat broker, Asep kembali menekankan adanya ketimpangan antara harga di pengecer yang masih tinggi dengan harga yang diterima peternak.
"Iya, posisi harga di tingkat pengecer masih tinggi dan peternak cukup rendah, mungkin karena efek melambatnya atau berkurangnya kontribusi MBG. Jadi, ada stok berlebih di tingkat peternak sehingga jadi bahan tekan oleh pedagang," jelasnya.
Asep pun berharap, jika penyerapan daging ayam dan telur melalui program MBG kembali masif, maka harga ayam di tingkat peternak bisa ikut terdongkrak.
"Iya, akan sangat membantu," ujarnya.
Karena itu, Asep juga berharap pemerintah segera mengambil langkah agar harga ayam di kandang kembali naik. Ia juga meminta perusahaan integrator atau perusahaan integrasi (integrated poultry company), sebagai pemimpin pasar, ikut mendorong perbaikan harga di tingkat peternak.
"Harapan kami ke pemerintah, minta segera adanya kenaikan harga ayam, terutama kepada perusahan-perusahaan integrasi sebagai market leader, supaya dinaikan biar peternak rakyat kecil-kecil seperti kami tidak mengalami kerugian yang besar, dan tetap bisa bertahan dan berternak sebagai mata pencaharian," ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah sebenarnya telah menetapkan harga acuan untuk komoditas peternakan. Mengacu Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Republik Indonesia Nomor 529 Tahun 2024, harga acuan pembelian di tingkat produsen untuk komoditas ayam hidup ditetapkan sebesar Rp25.000 per kg, sementara harga acuan penjualan di tingkat konsumen sebesar Rp40.000 per kg.
Senada, Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, juga membenarkan harga ayam hidup di kandang mengalami penurunan signifikan pada awal tahun. Ia menilai penurunan terjadi karena stok berlebih yang tidak diimbangi permintaan.
"Iya. Awal tahun ditandai dengan turunnya harga ayam di kandang. Menurut hemat saya, stoknya berlebih yang tidak diimbangi dengan demand," kata Sugeng saat dihubungi terpisah.
Sugeng berharap program MBG yang mulai beroperasi kembali, usai adanya libur sekolah, bisa membantu menaikkan permintaan, sehingga harga kembali menyesuaikan dan peternak tidak terus berada dalam posisi merugi.
"Kedepan, dengan MBG yang sudah mulai beroperasi, berharap dapat menaikkan demand (permintaan). Sehingga tidak dalam waktu yg lama akan terjadi kesesuaian harga, supaya peternak tidak dalam posisi merugi," ujarnya.
Ia menyebut, harga ayam hidup di kandang saat ini berada di kisaran Rp18.000 per kg, sementara biaya pokok produksi peternak berada di sekitar Rp21.000 per kg.
"Harga di kandang saat ini di posisi Rp18.000 per kg ayam hidup di kandang. Sementara biaya pokok produksi peternak di kisaran Rp21.000 per kg," pungkas Sugeng.
(wur)[Gambas:Video CNBC]
Foto: Peternak Ayam Petelur (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)