Internasional

Inggris Siapkan Rudal Nightfall Rp 16 M, Bisa Tembus Target 500 Km

tfa, CNBC Indonesia
Senin, 12/01/2026 21:50 WIB
Foto: Ilustrasi (AFP/BEN STANSALL)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Inggris akan mengembangkan rudal balistik jarak jauh baru untuk mendukung pertahanan Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia. Proyek tersebut diberi nama "Nightfall" dan ditujukan untuk memperkuat daya serang Kyiv di medan perang berisiko tinggi.

Dalam pernyataan resminya pada Minggu, Kementerian Pertahanan Inggris menyebut telah meluncurkan kompetisi industri untuk mengembangkan rudal balistik taktis yang dapat diluncurkan dari darat dan membawa hulu ledak konvensional seberat 200 kilogram. Rudal itu sendiri memiliki jangkauan lebih dari 500 kilometer (km).


"Di bawah Proyek Nightfall, Inggris telah meluncurkan kompetisi untuk mengembangkan rudal balistik yang diluncurkan dari darat dengan cepat, dirancang untuk beroperasi di medan perang berisiko tinggi dengan gangguan elektromagnetik yang berat," kata Kementerian Pertahanan Inggris dalam pernyataannya, seperti dikutip Reuters, Senin (12/1/2026).

Rudal Nightfall dirancang agar dapat diluncurkan dari berbagai jenis kendaraan, menembakkan beberapa rudal secara beruntun, lalu berpindah lokasi hanya dalam hitungan menit. Kemampuan ini diyakini akan memungkinkan pasukan Ukraina menyerang target militer Rusia sebelum Moskow sempat merespons.

Inggris menargetkan setiap unit rudal Nightfall memiliki harga maksimal 800.000 poundsterling (sekitar Rp16 miliar). Pemerintah Inggris juga berencana memproduksi hingga 10 sistem per bulan.

Pengumuman ini muncul hanya beberapa hari setelah Rusia meluncurkan rudal hipersonik terbarunya, Oreshnik, yang menghantam sebuah kota Ukraina sekitar 96 km dari perbatasan Polandia. Serangan tersebut menuai kecaman para pemimpin Eropa yang menyebutnya sebagai "eskalasi yang jelas".

Sementara itu, Menteri Pertahanan Inggris John Healey menegaskan komitmen negaranya untuk terus mempersenjatai Ukraina dengan teknologi militer canggih. Ia menyebut Rusia tak ada niat bernegosiasi.

"Serangan pada Kamis malam menunjukkan bagaimana Putin berpikir dia bisa bertindak tanpa hukuman, menargetkan wilayah sipil dengan persenjataan canggih," ujar Healey, seperti dikutip The Independent.

"Alih-alih serius menegosiasikan perdamaian, dia justru meningkatkan perang ilegalnya," ujarnya.

Healey juga menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Kyiv pekan lalu. Di mana ia mendengar langsung sirene serangan udara di sekitar Lviv.

"Itu adalah pengingat nyata tentang rentetan drone dan rudal yang terus menghantam Ukraina, bahkan saat suhu berada di bawah nol derajat," katanya.

Sementara itu, Menteri Kesiapan Pertahanan dan Industri Inggris Luke Pollard mengatakan rudal jarak jauh baru ini akan membantu Ukraina tetap bertahan di medan perang sekaligus memberi tekanan tambahan kepada Rusia.

"Rudal ini akan membuat Ukraina tetap dalam pertempuran dan memberi Rusia satu hal lagi untuk dikhawatirkan... Pada 2026, kami akan terus berdiri bahu-membahu dengan Ukraina," ujarnya.

Menurut Kementerian Pertahanan Inggris, proyek Nightfall juga akan menjadi dasar pengembangan kemampuan serangan jarak jauh bagi angkatan bersenjata Inggris di masa depan. Proyek ini akan melibatkan tiga tim industri, masing-masing menerima kontrak pengembangan senilai 9 juta poundsterling (sekitar Rp180 miliar), untuk merancang dan mengirimkan tiga unit rudal pertama dalam waktu 12 bulan guna uji tembak.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inggris Dukung Sikap AS, Sita Kapal Tanker Berbendera Rusia