Bahlil Mau Pangkas Produksi Batu Bara RI, Ahli Tambang Ungkap Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah berencana memangkas produksi batu bara pada 2026 menjadi kurang lebih sekitar 600 juta ton. Angka tersebut mengalami penurunan sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi produksi 2025 sebesar 790 juta ton.
Kebijakan pemangkasan produksi diharapkan dapat membantu mendongkrak harga batu bara di pasar global. Pasalnya Indonesia merupakan negara eksportir batu bara terbesar saat ini.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy mencatat ekspor batubara RI ke pasar internasional pada 2024 sekitar 550 juta ton. Angka ini sekitar 44% dari total volume perdagangan batubara internasional melalui jalur seaborne (jalur pengangkutan laut).
Oleh sebab itu, pemerintah berharap jika volume ekspor dikurangi dapat mendongkrak kenaikan harga. Namun demikian, perlu dipahami bahwa kenaikan harga batu bara tidak serta merta ditentukan oleh banyaknya pasokan dari Indonesia.
"Harus dipahami juga jika faktor naik turun nya harga batu bara tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak volume supply batu bara dari Indonesia ke pasar Internasional," kata Widhy kepada CNBC Indonesia, Senin (12/1/2026).
Menurut Widhy tak dapat dipungkiri bahwa penurunan supply batu bara Indonesia ke pasar internasional diduga dapat menaikkan harga, namun faktor demand atau permintaan dari negara importir batu bara besar seperti China dan India juga sangat dapat mempengaruhi perubahan harga.
Ia lantas menceritakan bahwa pada tahun 2025, volume impor batu bara oleh China mengalami penurunan yang disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain turunnya industri domestik untuk beberapa saat ketika terjadi perang tarif antara China dengan AS, serta akibat dari meningkatnya produksi batu bara dalam negeri.
Penurunan volume impor batu bara oleh China ini mempunyai dampak kepada turunnya harga batu bara secara signifikan. Mengingat China merupakan salah satu negara utama pengimpor batu bara dari pasar internasional, selain negara India.
"Jadi seandainya di tahun 2026 ini China dan India kembali menurunkan impor volume batu baranya dari pasar internasional, maka bukan tidak mungkin penurunan volume produksi batu bara dari Indonesia juga tidak banyak mempengaruhi untuk kenaikan harga batu bara di pasar internasional," kata dia.
Kemungkinan penurunan impor batu bara negara China dan India antara lain dapat disebabkan berbagai faktor seperti meningkatnya produksi dalam negeri, dan mengurangi penggunaan batu bara sebagai sumber energi dengan meningkatkan produksi listrik dari sumber energi lain seperti energi baru terbarukan (EBT).
"Jangan dilupakan juga kemungkinan mereka mengalihkan impor batu baranya dari negara produsen batu bara lain selain Indonesia, seperti misalnya dari Rusia, Mongolia, Australia, maupun negara-negara eksportir batu bara lainnya," katanya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa pemangkasan produksi ini dilakukan guna mendorong kenaikan harga batu bara dan menjaga cadangan batu bara ke depannya. Terlebih dari jumlah batu bara yang diperjualbelikan di pasar global kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton, Indonesia memasok sekitar 514 juta ton.
"Kementerian ESDM sudah rapatkan dengan Dirjen Minerba, kita akan lakukan revisi terhadap kuota RKAB. Jadi, produksi kita akan turunkan supaya harga bagus dan tambang kita untuk cucu kita," jęłas Bahlil dalam konferensi pers terkait Capaian Kinerja Tahun 2025 Kementerian ESDM di Jakarta, Kamis (08/01/2026).
Berdasarkan data Kementerian ESDM, produksi batu bara pada 2025 tercatat mencapai 790 juta ton, turun dari 2024 yang tercatat mencapai 836 juta ton.
Dari produksi batu bara tersebut, sebesar 514 juta ton atau 65,1% dijual ke luar negeri alias diekspor, dan 254 juta ton atau 32% dijual untuk pasar dalam negeri (domestik).
Penjualan batu bara untuk pasar domestik ini termasuk untuk sumber bahan bakar pembangkit listrik dan juga untuk pasar non kelistrikan, seperti untuk pabrik semen maupun fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) mineral.
(ven)