MARKET DATA

Kapasitas Pembangkit Listrik RI Melejit 7 Giga Watt di 2025

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
12 January 2026 13:10
Tampak udara Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung Cirata kapasitas 192 MWp di Provinsi Jawa Barat. Pengembangan energi baru dan terbarukan ini menjadi bukti bahwa PLN tidak hanya mampu menjadikan transisi energi menjadi sebuah kekuatan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional tetapi juga menjadi bukti PLN mampu bersaing di kancah global. (Dok. PT PLN (Persero))
Foto: Tampak udara Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung Cirata kapasitas 192 MWp di Provinsi Jawa Barat. Pengembangan energi baru dan terbarukan ini menjadi bukti bahwa PLN tidak hanya mampu menjadikan transisi energi menjadi sebuah kekuatan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional tetapi juga menjadi bukti PLN mampu bersaing di kancah global. (Dok. PT PLN (Persero))

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sepanjang tahun 2025 kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional mencapai 107,51 gigawatt (GW). Angka tersebut meningkat 7 GW dari sebelumnya 100,65 GW.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa kenaikan kapasitas terpasang ke depannya harus ditingkatkan sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional. Kehadiran listrik menjadi salah satu pendorong peningkatan investasi dan industri nasional.

"Dalam analisa kami di tahun 2026, kita harus genjot. Karena seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan oleh Pemerintah pada tahun ini," ujar Bahlil pada Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 dikutip Senin (12/1/2026).



Secara historis, kapasitas terpasang pembangkit selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun sejak 2020 silam. Pada tahun tersebut kapasitas terpasang pembangkit tercatat sebesar 72,75 GW di 2020 dan naik menjadi 74,53 GW di 2021. Tren positif ini berlanjut pada 2022 di mana terdapat pertumbuhan menjadi 83,81 GW, kemudian mencapai 91,17 di 2023.

Pemerintah juga menargetkan peningkatan konsumsi listrik per kapita di tahun 2025 sebesar 1.464 kilowatt hour (kWh). Realisasinya melampaui target tersebut, yakni mencapai 1.584 kWh atau 108,2% dari target. Pencapaian ini menandakan adanya pertumbuhan permintaan dan pemerataan akses listrik, hingga ke daerah terpencil.

"Jadi konsumsi kita naik. Kalau konsumsi naik, itu artinya terjadi pertumbuhan permintaan, dan itu kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Dan yang kedua adalah terjadi juga pemerataan," jelas Bahlil.

Bahlil menyampaikan, kenaikan konsumsi per kapita ini tidak terlepas dari keberhasilan program Listrik Desa dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Sepanjang 2025, Program Listrik Desa telah direalisasikan di 1.516 lokasi dan menjangkau 77.616 pelanggan. Sementara, hingga 31 Desember 2025, program BPBL telah direalisasikan untuk 205.968 rumah tangga.

Ke depan, Pemerintah berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan sektor ketenagalistrikan, termasuk peningkatan pembangunan pembangkit sesuai yang telah ditetapkan pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

(ven)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kapasitas Naik 14%, Buah Manis Investasi Pertamina NRE di Filipina


Most Popular
Features