Hindari Saudi, Pemimpin Separatis Yaman Kabur ke UEA Via Sekutu Israel
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara dua kekuatan besar Teluk, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), memasuki babak baru yang dramatis. Koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan bahwa pemimpin kelompok separatis Southern Transitional Council (STC), Aidarous al-Zubaidi, telah melarikan diri ke Abu Dhabi setelah mangkir dari perundingan damai di Riyadh.
Dalam pernyataan resmi pada Kamis waktu setempat, pihak koalisi mengungkapkan bahwa al-Zubaidi melakukan pelarian yang direncanakan dengan sangat rapi. Ia disebut "melarikan diri di tengah kegelapan malam" pada Rabu (7/1/2026) menggunakan kapal laut dari Aden, Yaman, menuju pelabuhan Berbera di Somaliland, yang baru-baru ini mendapatkan pengakuan dari Israel.
Dari Somaliland, al-Zubaidi kemudian menaiki pesawat bersama perwira militer UEA menuju ibu kota Somalia, Mogadishu. Berdasarkan data pelacakan udara yang dirilis koalisi, pesawat tersebut melakukan tindakan mencurigakan untuk menghindari deteksi radar.
"Pesawat tersebut mematikan sistem identifikasi saat berada di atas Teluk Oman, dan baru menyalakannya kembali 10 menit sebelum mendarat di bandara militer Al Reef di Abu Dhabi," tulis pernyataan resmi koalisi pimpinan Saudi, dilansir Al Jazeera.
Hilangnya al-Zubaidi berujung pada tindakan tegas dari pemerintah resmi Yaman yang didukung Saudi. Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, secara resmi mengumumkan pencopotan al-Zubaidi dari kursi dewan.
Al-Alimi menuduh al-Zubaidi telah melakukan "pengkhianatan tingkat tinggi" terhadap negara. Sebagai tindak lanjut, Jaksa Agung Yaman telah diperintahkan untuk segera memulai penyelidikan dan mengambil langkah hukum terhadap pemimpin separatis tersebut.
Hingga saat ini, baik pihak STC maupun pemerintah UEA belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan pelarian tersebut.
Insiden ini memperdalam perseteruan antara Arab Saudi dan UEA yang mulai terkespos sejak Desember lalu. Meskipun keduanya merupakan bagian dari koalisi melawan pemberontak Houthi, mereka kini berada di sisi yang berseberangan dalam konflik internal di selatan Yaman:
Arab Saudi mendukung pemerintah resmi Yaman yang diakui secara internasional. Di sisi lain, Uni Emirat Arab mendukung STC yang menginginkan kemerdekaan bagi Yaman Selatan.
Ketegangan meningkat setelah STC merebut provinsi Hadramout dan Mahra yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Riyadh menegaskan bahwa penguasaan wilayah perbatasan tersebut adalah "garis merah" yang mengancam keamanan nasional mereka.
Di lapangan, situasi semakin memanas. Pasukan pemerintah Yaman yang didukung oleh serangan udara Saudi dilaporkan telah merebut kembali wilayah Hadramout dan Mahra. Bahkan, pasukan darat pemerintah kini mulai bergerak masuk ke jantung pertahanan STC di Aden dan berhasil menguasai istana kepresidenan di kota tersebut.
(tps/luc)[Gambas:Video CNBC]