MARKET DATA

Konflik Yaman Memanas, Saudi Buka Ruang Dialog

teti purwanti,  CNBC Indonesia
03 January 2026 12:30
Supporters of the UAE-backed separatist Southern Transitional Council (STC) wave flags of the STC and the United Arab Emirates, during a rally in Aden, Yemen, January 1, 2026. REUTERS/Fawaz Salman
Foto: REUTERS/Fawaz Salman

Jakarta, CNBC Indonesia — Kementerian Luar Negeri Arab Saudi di akun resmi X memastikan ajakan dialog melalui konferensi komprehensif di Riyadh. Mengutip pernyataan resmi tersebut, ajakan tersebut dilakukan guna mempertemukan semua faksi selatan untuk membahas solusi yang adil bagi masalah selatan.

"Berdasarkan isi pernyataan Kementerian Luar Negeri tertanggal 30 Desember 2025, mengenai masalah selatan, yang menegaskan bahwa itu adalah masalah yang adil yang memiliki dimensi historis dan sosial, dan bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikannya adalah melalui dialog dalam kerangka solusi politik komprehensif di Yaman," ungkap keterangan resmi, dikutip Sabtu (3/1/2026).

Pemerintah Saudi juga mengatakan berdasarkan hubungan erat antara kedua negara bersaudara dan apa yang dibutuhkan oleh kepentingan bersama dalam keadaan saat ini, dan sebagai kelanjutan dari upaya Kerajaan untuk mendukung dan memperkuat keamanan dan stabilitas Republik Yaman serta menyediakan lingkungan yang sesuai untuk dialog.

Kerajaan Arab Saudi menyambut baik permintaan Yang Mulia Presiden Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman dan menyerukan kepada semua faksi selatan untuk berpartisipasi aktif dalam konferensi tersebut guna mengembangkan visi komprehensif untuk solusi yang adil bagi masalah selatan yang memenuhi aspirasi sah rakyat selatan.

Untuk diketahui, di tengah dinamika geopolitik di Yaman, Gubernur Provinsi Hadramout yang didukung Arab Saudi mengumumkan operasi militer untuk mengambil alih posisi strategis dari tangan Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA, Jumat (2/1/2026).

Langkah ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik Yaman, di mana keretakan antara Riyadh dan Abu Dhabi mulai terbuka lebar sejak Desember lalu. Kedua negara yang dulunya merupakan pilar keamanan regional kini melihat kepentingan mereka saling bertentangan, mulai dari pengaruh geopolitik hingga kuota minyak.

(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Arab Memanas! Pasukan Bekingan UEA Kuasai Wilayah Ini, Siap Merdeka


Most Popular
Features