Trump Tangkap Maduro, Pertamina Buka Suara Nasib Aset di Venezuela
Jakarta, CNBC Indonesia - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kekhawatiran. Khususnya, terhadap keberlangsungan investasi asing di negara tersebut, termasuk aset minyak dan gas bumi (migas) milik Indonesia.
Seperti diketahui, Indonesia melalui PT Pertamina (Persero) tercatat memiliki lapangan minyak di Venezuela. Aset tersebut berada di bawah pengelolaan Maurel & Prom (M&P), yang 71,09% sahamnya dimiliki PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP).
Lantas, bagaimana nasib operasional lapangan migas milik Pertamina di Venezuela tersebut? Apakah mengalami gangguan atau tetap beroperasi?
Manager Relations Pertamina Internasional EP (PIEP) Dhaneswari Retnowardhani memastikan hingga saat ini tidak terdapat dampak terhadap aset maupun operasional perusahaan di Venezuela.
"Sehubungan dengan perkembangan situasi terkini, berdasarkan pemantauan yang dilakukan, hingga saat ini tidak terdapat dampak terhadap aset dan staf M&P di Venezuela," kata Dhaneswari dalam keterangan tertulis, Senin (5/1/2026).
Menurut dia, pihaknya terus melakukan pemantauan secara cermat terhadap perkembangan situasi geopolitik dan keamanan di negara tersebut. Selain itu, koordinasi juga dilakukan secara berkelanjutan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Caracas sebagai bagian dari langkah kehati-hatian perusahaan.
"Serta menjalin koordinasi yang berkelanjutan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas sebagai bagian dari langkah kehati-hatian dan komitmen perusahaan dalam memastikan keselamatan serta keberlangsungan operasional," katanya.
Mengutip situs resmi PIEP, melalui kepemilikan tidak langsung di Maurel & Prom, Pertamina memiliki pengelolaan pada beberapa lapangan minyak di Venezuela, antara lain seperti di Petroregional (Urdaneta West) di mana perusahaan memegang 50% saham dengan tingkat produksi sekitar 40% (setara 32% secara neto bagi M&P).
Berikutnya, yakni aset di Lagopetrol (Block 70/80), di mana M&P memiliki 10% kepemilikan melalui Integra, dengan produksi sekitar 26,35% (sekitar 2,635% secara neto bagi M&P).
Cadangan Minyak Venezuela
Seperti diketahui, pada Sabtu dini hari (3/1/2026) waktu setempat, Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Ia ditangkap bersama istrinya Cilia Flores, setelah pemerintah Presiden Donald Trump melakukan serangan besar-besaran ke Caracas.
Maduro dan istri kini dibawa ke New York. Setelahnya, Trump mengumumkan AS "bertanggung jawab" ke Venezuela, meski Caracas sendiri telah menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodriguez sebagai pemimpin sementara.
Trump menyebut ingin membuka kembali akses perusahaan minyak AS ke Venezuela, negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia. Hal ini tentu bukan pepesan kosong. Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.
Menurut data OPEC, Venezuela tercatat memiliki cadangan terbukti sekitar 303,2 miliar barel. Ini melampaui Arab Saudi di posisi kedua dengan 267 miliar barel, Iran di posisi ketiga dengan 209 miliar barel, Irak di posisi keempat dengan 209 miliar barel.
Rusia saja hanya memiliki 80 miliar barel alias di posisi ketujuh. Sementara AS sendiri di posisi sembilan dengan 45 miliar barel.
Namun, produksi minyak negara anjlok tajam. Ini akibat sanksi AS, salah urus, serta minimnya investasi.
Saat ini Venezuela hanya memproduksi sekitar 1 juta barel per hari. Angka tersebut jauh di bawah level 3,5 juta barel per hari pada 1999 ketika Hugo Chavez pertama kali berkuasa.
Minyak Venezuela pernah sangat jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah 350.000 barel per hari pada 2020. Ini saat sanksi keras Trump diberlakukan pada 2019.
"Pengabaian, infrastruktur yang buruk, kurangnya investasi, dan korupsi juga telah mengurangi kapasitas produktif negara," kata Panalis dari Third Bridge, eter McNally, seperti dikutip AFP, Senin (5/1/2026).
Di bawah sanksi AS, ekspor minyak Venezuela mayoritas mengalir ke China, diperkirakan mencapai 80%. Sering kali minyak sampai ke China melalui jalur tidak langsung via Malaysia atau sebagian kecil lainnya dikirim ke Kuba.
Untuk menghindari embargo, Caracas menggunakan jaringan "kapal tanker hantu" dengan bendera dan rute palsu. Salah satunya, kapal M/T Skipper, dicegat Angkatan Laut AS dalam blokade minyak yang diumumkan bulan lalu, yang membawa lebih dari 1 juta barel minyak Venezuela.
Transaksi minyak juga dilaporkan dilakukan menggunakan mata uang kripto seperti USDT. Ini guna menghindari sistem keuangan berbasis dolar AS.
[Gambas:Video CNBC]