MARKET DATA

Konflik AS-Venezuela Ngefek Gak ke Ekonomi RI? Ini Penjelasan Ekonom

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
05 January 2026 15:40
Sebuah foto yang diunggah oleh Presiden AS Donald Trump di akun Truth Social miliknya menunjukkan dia duduk di dekat Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, sementara Direktur CIA John Ratcliffe dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio berdiri di depan layar yang menampilkan unggahan di situs web X.com, saat mereka menyaksikan operasi militer AS di Venezuela dari resor Mar a Lago milik Trump, di Palm Beach, Florida, AS, 3 Januari 2026. @realDonaldTrump/Handout via REUTERS
Foto: via REUTERS/@realDonaldTrump

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela masih membayangi kawasan Karibia, meski prospek Washington mengambil alih kendali langsung atas negara Amerika Selatan itu tampak mereda pada Minggu (4/1/2026), sehari setelah penangkapan mengejutkan Presiden Nicolas Maduro.

Bagi Indonesia, dampak konflik tersebut tidak mengganggu perekonomian Indonesia lewat jalur perdagangan langsung. Pasalnya, hubungan dagang dan keterkaitan rantai pasok Indonesia dengan Venezuela relatif kecil.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai dampak yang lebih nyata justru datang dari jalur keuangan, yaitu perubahan suasana global yang membuat pelaku pasar lebih berhati hati, menaikkan permintaan terhadap dolar AS dan aset aman (safe haven), lalu menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

"Peristiwa Venezuela lebih diperlakukan pasar sebagai guncangan geopolitik dan ketidakpastian sistem, bukan guncangan/shock pasokan minyak dunia yang besar, sehingga respons yang menonjol justru terlihat pada naiknya minat ke aset aman, sementara harga minyak tidak melonjak tajam," ujar Josua kepada CNBC Indonesia, Senin (5/1/2025).

Dampak sentimen tersebut sudah tercermin pada pergerakan rupiah. Pada perdagangan pembuka 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 0,17%% ke sekitar Rp 16.753 per dolar AS pada awal perdagangan hari ini.

Untuk jangka pendek, Josua memproyeksikan rupiah akan bergerak pada Rp 16.675 sampai Rp 16.775 sepanjang hari ini.

"Artinya, konflik Venezuela memang menambah faktor ketidakpastian, tetapi dampaknya pada rupiah cenderung muncul sebagai tekanan tambahan yang menjaga rupiah tetap di area lemah, bukan sebagai pemicu pelemahan ekstrem dalam waktu singkat, apalagi ketika harga minyak mentah Brent sendiri bergerak relatif stabil di kisaran sekitar US$ 60 per barel," ujarnya.

Dengan mempertimbangkan pola tersebut, perkiraan yang paling relevan untuk pergerakan rupiah pada awal tahun ini adalah bergerak di sekitar rentang Rp 16.675 sampai Rp 16.775 per dolar AS.

"Dengan kecenderungan berada di sisi atas rentang bila ketegangan makin meluas dan dolar AS makin diburu," ujarnya.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman menegaskan bahwa dari sisi perdagangan langsung, konflik AS-Venezuela tidak memiliki daya transmisi ke perekonomian Indonesia.

Berdasarkan data Trade Map menunjukkan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Venezuela berada pada kisaran US$ 20-50 juta per tahun, baik dari sisi ekspor maupun impor. Angka ini bernilai cukup kecil dibandingkan total ekspor Indonesia yang telah melampaui US$ 260 miliar, sehingga gangguan perdagangan Venezuela.

Misalnya jika terjadi penurunan drastis, maka tidak akan banyak berdampak mengubah neraca perdagangan nasional, transaksi berjalan, maupun pasokan komoditas strategis.

"Artinya, tidak ada tekanan fundamental dan besar terhadap rupiah yang bersumber dari hubungan dagang Indonesia-Venezuela," ujarnya.

Sementara dari sisi rupiah, Rizal menilai tekanan rupiah lebih cenderung disebabkan dan dijelaskan melalui kanal sentimen global (risk-off) akibat eskalasi geopolitik, bukan melalui perdagangan langsung. Secara empiris, episode geopolitik global biasanya mendorong penguatan dolar AS dan kehati-hatian investor terhadap aset emerging market.

Dalam konteks awal tahun, data historis menunjukkan rupiah cenderung mengalami volatilitas jangka pendek sebesar 1-3% dari posisi akhir tahun sebelumnya saat terjadi peningkatan ketidakpastian global, sebelum kembali stabil.

"Namun karena tidak ada shock perdagangan dari Venezuela, tekanan tersebut bersifat temporer dan psikologis sangat sementara, bukan struktural," ujarnya.

(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bos BI Ramal Ekonomi Masih Dibayangi 'Hantu Ketidakpastian' di 2026


Most Popular
Features