MARKET DATA
INTERNASIONAL

Kondisi Makin Kacau! Trump Siaga Luncurkan Serangan Kedua ke Venezuela

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
05 January 2026 13:30
Sebuah foto yang diunggah oleh Presiden AS Donald Trump di akun Truth Social miliknya menunjukkan dia duduk di dekat Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, sementara Direktur CIA John Ratcliffe dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio berdiri di depan layar yang menampilkan unggahan di situs web X.com, saat mereka menyaksikan operasi militer AS di Venezuela dari resor Mar a Lago milik Trump, di Palm Beach, Florida, AS, 3 Januari 2026. @realDonaldTrump/Handout via REUTERS
Foto: via REUTERS/@realDonaldTrump

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa Washington membuka kemungkinan untuk meluncurkan serangan militer kedua ke Venezuela. Ancaman ini muncul pasca-penangkapan Presiden Nicolas Maduro, terutama jika anggota pemerintahan Venezuela yang tersisa menolak bekerja sama dalam upaya AS "memperbaiki" negara tersebut.

Pernyataan ini disampaikan Trump kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (4/1/2026) waktu setempat. Komentar tersebut tidak hanya meningkatkan eskalasi ketegangan di Amerika Latin, tetapi juga menyeret negara tetangga seperti Kolombia dan Meksiko ke dalam radar intervensi militer AS jika mereka gagal menekan aliran narkoba ilegal ke Negeri Paman Sam.

"Operasi Kolombia terdengar bagus bagi saya," ujar Trump. Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyinggung Kuba, sekutu terdekat Venezuela, dengan menyatakan bahwa negara tersebut tampak "siap untuk jatuh" dengan sendirinya tanpa perlu tindakan militer langsung dari AS.

Saat ini, Nicolas Maduro tengah berada di pusat penahanan New York untuk menunggu persidangan pada hari Senin terkait tuduhan perdagangan narkoba. Penangkapan dramatis ini telah memicu ketidakpastian mendalam mengenai masa depan negara kaya minyak tersebut.

Trump menyatakan bahwa administrasinya akan bekerja sama dengan sisa-sisa rezim Maduro untuk memberantas perdagangan narkoba dan merombak industri minyak negara tersebut. Meski begitu, Trump tidak mendorong pelaksanaan pemilu segera untuk membentuk pemerintahan baru, sebuah langkah yang mengecewakan pihak oposisi.

Di Caracas, situasi tetap tegang. Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello menegaskan bahwa Maduro tetap merupakan satu-satunya presiden sah dan menyebut penangkapan Maduro serta istrinya, Cilia Flores, sebagai aksi penculikan.

"Jangan ada yang terjebak dalam provokasi musuh," tegas Cabello melalui rekaman audio yang dirilis partai berkuasa PSUV.

Operasi penangkapan Maduro, yang menampilkan gambar pria berusia 63 tahun tersebut dalam kondisi mata tertutup dan tangan terborgol, telah mengejutkan rakyat Venezuela. Ini merupakan intervensi AS yang paling kontroversial di Amerika Latin sejak invasi Panama 37 tahun silam.

Menteri Pertahanan Venezuela, Jenderal Vladimir Padrino, melaporkan bahwa serangan AS telah menewaskan tentara, warga sipil, dan sebagian besar tim keamanan Maduro secara keji. Sementara itu, pemerintah Kuba melaporkan 32 warganya tewas dalam penggerebekan tersebut.

Wakil Presiden Delcy Rodriguez kini mengambil alih kepemimpinan sementara dengan restu mahkamah agung setempat. Meski dikenal sebagai sosok pragmatis, Rodriguez secara terbuka membantah klaim Trump bahwa dirinya bersedia bekerja sama dengan AS.

Di sisi lain, Trump secara terang-terangan mengungkapkan motif di balik operasi ini. Selain alasan hukum terkait narco-terrorism, ia menekankan pentingnya perusahaan minyak AS memiliki "akses total" ke cadangan minyak raksasa Venezuela. Ia juga menuding Maduro sengaja mengirim narapidana dan pasien gangguan jiwa ke AS sebagai imigran.

(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Detik-Detik Militer AS Bombardir Kapal Venezuela


Most Popular
Features