Lifting Minyak RI 2025 Dipastikan Capai Target 605 Ribu Barel

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Jumat, 02/01/2026 14:35 WIB
Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) optimistis realisasi produksi terangkut (lifting) minyak nasional pada 2025 akan mencapai target yang telah ditetapkan yakni sebesar 605 ribu barel per hari (bph).

Wakil Menteri ESDM Yuliot mengatakan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan konsolidasi data akhir capaian lifting bersama SKK Migas. Meski begitu, ia meyakini target lifting minyak tahun ini dapat tercapai.

"Jadi untuk capaian lifting 2025 kan kita lagi konsolidasikan target kita untuk tahun 2025 ini kan 605 ribu barel itu per hari. Jadi kan data akhir itu kan lagi dikonsolidasikan oleh SKK Migas. Insya Allah capaian 605 itu tercapai tahun ini," kata Yuliot ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (2/1/2026).


Di sisi lain, Yuliot mengakui bahwa sebelumnya, realisasi lifting sempat mengalami penurunan akibat adanya gangguan teknis. Salah satu kendala terjadi pada fasilitas produksi ExxonMobil di wilayah Cepu, yang mengalami kebocoran. Namun, ia memastikan gangguan tersebut telah berhasil ditangani.

"Ya kemarin itu kan juga ada kendala, ada kebocoran di ExxonMobil di Cepu. Tapi dua hari itu sudah bisa diperbaiki. Jadi ini kembali ke produksi normal kembali," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan strategi untuk mengejar target produksi siap jual (lifting) minyak yang dipatok sebesar 605.000 barel per hari (bph) pada tahun 2025.

Terdapat tiga strategi yang digunakan pemerintah dalam menggenjot lifting minyak. Pertama metode peningkatan produksi minyak melalui Enhanced Oil Recovery (EOR) pada sumur eksisting.

"Yang pertama sumur-sumur yang ada sekarang, kita harus intervensi dengan teknologi. Dengan EOR, salah satu diantara teknologi yang menjadi pilihan," kata Bahlil di Investor Daily Summit 2025, Kamis (9/10/2025).

Kemudian strategi selanjutnya adalah mempercepat produksi dari lapangan-lapangan migas yang sudah mendapatkan persetujuan Plan of Development (POD). Setidaknya terdapat 300 an lebih lapangan yang sudah dalam proses persetujuan POD.

Bahlil mencontohkan salah satu proyek migas seperti Blok Masela yang sudah puluhan tahun mangkrak, padahal pemerintah sudah memberikan persetujuan POD. Ia lantas mengancam akan memutus kontrak dengan Inpex selaku operator Blok Masela apabila tidak segera memulai produksi.

"Saya kasih surat peringatan. Kalau ente nggak mau, saya cabut izinnya, peringatan pertama. Begitu surat cinta keluar, langsung tender FEED-nya. Dan target produksi kita itu di 2028-2029. Artinya memang, mengelola energi kita nggak bisa dengan hanya wajah yang disukai semua orang," katanya.

Kemudian strategi berikutnya adalah peningkatan produksi melalui pemanfaatan sumur-sumur yang selama ini tidak aktif (idle wells) serta sumur-sumur tua yang masih memiliki potensi.

"Bapak-Ibu semua, total sumur kita di luar sumur masyarakat, di luar sumur masyarakat, total sumur kita itu kurang lebih sekitar 40 ribu sumur. 39, hampir 40 ribu sumur," kata Bahlil.

Menurut Bahlil dari hampir 40 ribu sumur tersebut yang sudah berproduksi kurang lebih sekitar 16.700 sampai dengan 17.000 sumur. Adapun, sumur-sumur tersebut sebagian besar merupakan sumur-sumur yang sudah tua.

"Dan sumur-sumur ini sebagian besar menjadi sumur-sumur yang usianya lebih tua daripada saya. Itu di saat jaman Belanda. Bahkan sebelum Indonesia Merdeka usia sumur ini. Di sisi yang lain ada sumur-sumur yang idle. Ada kurang lebih sekitar 14.000 yang sudah terverifikasi, kurang lebih sekitar 7.000 sampai 8.000 sumur," katanya.


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Aturan Baru Minyakita Terbit - Amerika Cuan Rp 3.000 T