Fundamental Kuat, Begini Proyeksi Ekonomi & Pasar Keuangan 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam menghadapi ketidakpastian global dan perubahan arah pasar keuangan, Simpan Asset Management melalui Tim Investasi merilis Macro Outlook 2026, sebuah laporan strategis yang bertujuan memberikan panduan bagi para investor dalam menavigasi peluang dan risiko investasi sepanjang tahun 2026.
Laporan ini mengulas lima tema utama yang diperkirakan membentuk lanskap investasi domestik dan global, sekaligus menjadi dasar penyusunan strategi alokasi aset yang lebih terukur dan disiplin.
Pertama terkait Sinkronisasi Kebijakan Fiskal dan Moneter. Hal ini telah menggerakkan mesin pertumbuhan struktural Indonesia tetap terjaga sepanjang 2025 dengan pertumbuhan PDB tahunan di atas 5%, didukung oleh tingkat penetrasi industri yang masih rendah, peningkatan produktivitas, serta profil demografi yang menguntungkan.
Memasuki 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mencapai 5,1% YoY, seiring kebijakan fiskal dan moneter yang lebih akomodatif. Inisiatif strategis seperti Danantara diperkirakan menjadi katalis penting bagi pertumbuhan jangka panjang, meskipun dampaknya akan terealisasi secara bertahap.
Kedua, laporan ini juga mengungkap bahwa tanpa foreign flows, obligasi Indonesia bakal tetap kokoh ditopang domestik. Di tengah keluarnya investor asing, pasar obligasi Indonesia justru membuktikan ketangguhannya. Kepemilikan asing atas Surat Berharga Negara (SBN) turun hingga sekitar 14% dari total outstanding sepanjang 2025, namun pergerakan yield tetap terkendali dan relatif stabil bahkan sempat menurun pada beberapa periode.
"Fenomena ini menegaskan pergeseran struktural yang penting. Stabilitas pasar obligasi Indonesia kini semakin ditopang oleh kekuatan investor domestik, bukan semata arus modal asing. Ke depan, dengan basis investor domestik yang kian solid, pasar obligasi Indonesia diperkirakan tetap resilien. Meski demikian, yield tenor menengah hingga panjang berpotensi mengalami kenaikan bertahap seiring agenda pertumbuhan pemerintah, pelebaran defisit fiskal, dan potensi tekanan terhadap nilai tukar Rupiah," ungkap tim riset Simpan Asset Management dikutip, Selasa, (30/12/2025).
Sementara itu, terkait pergeseran tren di pasar modal. Ada rotasi saham momentum ke saham blue-chip pada 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi baru, terutama didorong oleh saham-saham momentum, sementara saham blue-chip relatif tertinggal akibat minimnya arus dana asing.
Dengan valuasi saham blue-chip yang berada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir, pemulihan siklus laba yang mulai terlihat, serta kondisi likuiditas global yang semakin kondusif, tahun 2026 membuka peluang terjadinya pembalikan arus dana kembali ke saham-saham blue-chip Indonesia. Outlook Global
Keempat, ketahanan ekonomi AS diperkirakan berlanjut hingga 2026. Pasar global, khususnya Amerika Serikat, sempat mengalami volatilitas pada awal 2025 akibat ketegangan perdagangan dan pengumuman tarif.
Namun sentimen risiko kembali pulih, tercermin dari indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq Composite yang mencetak level tertinggi baru. Kinerja pasar didorong oleh sektor teknologi, dengan tema kecerdasan buatan (AI) yang terus mendominasi.
Memasuki 2026, siklus penurunan suku bunga global dan berkurangnya ketidakpastian kebijakan diharapkan mendukung sentimen investor. Namun, valuasi yang sudah tinggi membuat pasar saham lebih rentan terhadap kejutan negatif, sehingga volatilitas diperkirakan tetap ada dengan potensi imbal hasil yang lebih moderat dibandingkan tahun sebelumnya.
Terakhir, laporan ini juga mengulas terkait berakhirnya era carry trade Yen. Perubahan struktural ekonomi Jepang mulai mengikis fondasi yen carry trade yang selama ini menjadi sumber pendanaan murah global.
Seiring melemahnya dominasi yen sebagai mata uang pendanaan, pasar global diperkirakan akan beralih ke alternatif dengan biaya yang lebih tinggi. Kondisi ini berpotensi mengetatkan leverage dan meningkatkan risiko guncangan suku bunga serta nilai tukar pada 2026.
(dpu/dpu)[Gambas:Video CNBC]