Internasional

"Dikerjai" Trump Habis-habisan, India Pilih Merapat ke China dan Rusia

Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
29 August 2025 21:10
Indian flag, 3D-printed miniature model depicting U.S. President Donald Trump and the word
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - India semakin memperlihatkan manuver geopolitik yang berani. Di tengah ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS), New Delhi justru mempererat hubungan dengan Rusia dan membuka kembali ruang komunikasi dengan China.

Hubungan dagang India-AS kini berada di ujung tanduk setelah Washington menjatuhkan tarif hingga 50% atas sejumlah produk India, menyusul pembelian minyak murah Rusia oleh New Delhi. Padahal, AS merupakan pasar ekspor terbesar India dengan nilai sekitar US$87 miliar per tahun.

Akibat tarif baru Presiden Donald Trump, sektor berlian, garmen, hingga makanan laut di India, yang menyerap jutaan tenaga kerja, langsung terpukul.

"India memiliki beberapa batasan dalam negosiasi yang harus dipertahankan. Adalah hak kami untuk membuat keputusan demi kepentingan nasional kami," tegas Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar, seperti dikutip CNBC International, Jumat (29/8/2025).

Rusia Jadi Penopang Energi

Di sisi lain, Rusia justru menjadi penolong utama India. Dari hanya 1% pada 2021, kini lebih dari 35% impor minyak mentah India berasal dari Moskow, setara 1,75 juta barel per hari. Diskon harga ini menghemat lebih dari US$17 miliar bagi India sejak 2022, sekaligus menekan inflasi domestik.

Namun, langkah ini membuat Washington gerah. Sejumlah pejabat AS menuding India "mencari untung" dengan membeli minyak di atas batas harga G7 sebesar US$60 dan mengekspor ulang produk olahan ke Eropa.

Bagi India, Rusia bukan sekadar pemasok energi, tetapi juga mitra pertahanan utama.

"Tarif tinggi AS adalah peringatan bagi New Delhi untuk mengurangi ketergantungan pada satu mitra dagang," ujar mantan Gubernur Bank Sentral India, Raghuram Rajan.

Menjaga Pintu dengan China

India juga membuka kembali jalur komunikasi dengan Beijing. PM Narendra Modi dijadwalkan menghadiri KTT Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di China dan bertemu langsung dengan Presiden Xi Jinping serta Presiden Rusia Vladimir Putin.

Meski hubungan India-China memburuk sejak bentrokan perbatasan 2020, perdagangan kedua negara tetap besar, mencapai US$118 miliar tahun lalu. India mengimpor jauh lebih banyak dari yang diekspor, sebuah ketimpangan yang membuat Delhi frustrasi namun sulit diakhiri.

"India tidak mungkin sepenuhnya melepaskan diri dari China. Terlalu banyak kepentingan ekonomi yang dipertaruhkan," kata Meera Shankar, mantan Duta Besar India untuk AS.

Bagi pengamat, sikap India mencerminkan strategi "otonomi strategis" yang telah lama dipegang New Delhi. Richard Rossow, Penasihat Senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menilai peluang kesepakatan dagang dengan AS masih terbuka. Namun, arah politik India kini jelas: menjaga ruang negosiasi dengan Washington, sambil memperkuat pijakan bersama Rusia dan China.

"India berusaha menempatkan semua pihak di meja perundingan, betapapun canggungnya," ujar Rossow.

Dengan langkah ini, India seolah mengucapkan selamat tinggal pada dominasi AS. Sebaliknya, Delhi justru merapat ke blok Asia: Rusia sebagai penyokong energi dan pertahanan, serta China sebagai mitra dagang yang terlalu besar untuk dihindari.


(tfa/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article India Tawarkan Pinjaman Murah untuk Senjata, Incar Pelanggan Rusia

Tags

Related Articles
Recommendation
Most Popular