Internasional

Jangan Kaget! Negara Kaya Ini Utangnya Menggunung: Arab Saudi

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
25 January 2023 16:30
A Honor Guard member is covered by the flag of Saudi Arabia as Defense Secretary Jim Mattis welcomes Saudi Crown Prince Mohammed bin Salman to the Pentagon with an Honor Cordon, in Washington, Thursday, March 22, 2018. (AP Photo/Cliff Owen) Foto: Arab Saudi (AP/Cliff Owen)

Jakarta, CNBC Indonesia - UtangĀ Arab Saudi mencatatkan lonjakan pada tahun 2022. Bahkan mencapai rekor selama 10 tahun terakhir.

Hal tersebut terlihat dalam data terbaru CEIC yang mengolah data milik pemerintah, yang diperbarui setiap tahun.

Saudi Arabia National Government Debt (Utang Pemerintah Nasional Arab Saudi) mencapai US$ 262,7 miliar (Rp 3.937 triliun) pada Desember 2022, lebih tinggi dibandingkan dengan US$250,1 pada tahun sebelumnya.

"Data ini mencapai angka tertinggi sepanjang masa," tulis catatan CEIC, dikutip Rabu (25/1/2023).

Sementara itu, di dalam data lainnya yang disajikan Revinitif, Arab Saudi juga tercatat menjadi negara peminjam uang terbesar di wilayah Timur Tengah dan Afrika pada tahun 2022.

"Administrasi Kerajaan juga memimpin dalam hal penerbitan sukuk, mengamankan US$ 2,5 miliar (Rp 37 triliun)," tambah data itu yang diwartakan oleh Arab News.

Data utang ini sendiri muncul tatkala Arab Saudi melaporkan surplus pembelanjaan senilai US$ 27 miliar (Rp 404 triliun) di tahun 2022.

Kondisi ini disebabkan melonjaknya harga penjualan minyak Arab Saudi hingga sempat mencapai US$ 100 per barrel pasca serangan Rusia ke Ukraina.

Sementara itu, kenaikan utang ini juga terjadi saat Arab Saudi sedang terus menggenjot pembangunan kota baru, NEOM.

Kota ini akan dijadikan sebagai pusat ekonomi baru wilayah Timur Tengah dan bakal dijadikan andalan Saudi dalam memutus ketergantungan pemasukan dari minyak.

Pada Agustus lalu, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman membongkar skema pendanaan kota baru yang akan menelan dana hingga US$ 500 miliar itu.

Ia memaparkan untuk pembangunan fase satu hingga 2030 mendatang, kerajaan akan menelan biaya senilai US$ 320 milar.

Menurut MBS, setengah biaya pembangunan itu akan dibiayai oleh lembaga dana abadi Arab Saudi, Public Investment Fund (PIF).

Selain itu, para pejabat jugaakan berusaha untuk mengumpulkan US$ 159 miliar lagi dari dana kekayaan kedaulatan lainnya di wilayah tersebut, investor swasta di Arab Saudi dan luar negeri, serta penawaran umum perdana NEOM di pasar saham Saudi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Apa yang Terjadi Jika Raja Salman Meninggal? Ini Jawabnya


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading