Ekonomi Katanya Mau Kiamat, Begini Pandangan Jokowi!

News - Redaksi, CNBC Indonesia
30 November 2022 19:14
Presiden Joko Widodo Saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Bank Indonesia) Foto: Presiden Joko Widodo Saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Robert Kiyosaki, Praktisi Investasi melihat ekonomi dunia akan menuju kiamat. Penulis buku terkenal Rich Dad, Poor Dad tersebut melihat semua pihak harus berhati-hati.

Meski tidak menyebutkan ekonomi akan kiamat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga meminta tingkatkan kehati-hatian. Situasi perekonomian dunia kini penuh ketidakpastian.

"Memang situasi global saat ini confirm tidak pasti. Masih tidak pasti ruwet complicated, sulit dihitung sulit diprediksi, gak ada yang bisa menghitung dan memprediksi berada di angka berapa, gak jelas. Sehingga tadi semuanya pusing," kata Jokowi dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu (30/11/2022).

China menjadi perhatian besar bagi Jokowi. Peningkatan kasus covid-19, lockdown dan perlambatan ekonomi akan berpengaruh terhadap Indonesia.

"Hati-hati (ekspor) tahun depan bisa turun, karena problem di Tiongkok yang belum selesai," ujar Jokowi.

Kemudian adalah Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan jatuh dalam zona resesi.

"Uni Eropa juga pelemahan ekonomi pasti resesi, kapan tinggal tunggu saja. Pelemahan ekonomi pasti di AS juga sama Fed fund Rate terus naik artinya ngerem pertumbuhan," paparnya.

Kalangan perbankan yang tergabung dalam Perhimpunan Bank Umum Nasional (Perbanas) mengingatkan pemerintah supaya tidak lengah menghadapi ancaman tekanan ekonomi global, meskipun perekonomian domestik terbilang baik-baik saja.

Wakil Ketua Umum Perbanas, Tigor M Siahaan mengatakan, perekonomian global memang masih dihatui berbagai tekanan, seperti krisis energi, krisis pangan, tensi geopolitik, hingga inflasi yang tinggi, khususnya di negara-negara maju.

"Tapi Indonesia itu sangat lumayan dibandingkan negara lain dari segi inflasi, nilai tukar, growthnya, jadi kami merasa kita optimis tapi agak hati-hati," ujar Tigor.

Kendati begitu, Tigor menekankan, kehati-hatian ini jangan sampai membuat pemerintah lengah hingga takabur karena menganggap perekonomian Indonesia masih baik-baik saja. Sebab, dampak tekanan ekonomi global itu masih bisa merembet melalui jalur perdagangan, dengan tertekannya kinerja ekspor.

"Seperti yang presiden katakan kita jangan takabur harus hati hati, kita harus jaga pertumbuhan ini. Kita jaga inflasi ini, demand permintaan dari segi ekonominya. Jadi kalau itu terjaga dengan baik pertumbuhan tahun depan masih bisa lebih baik juga," tutur Tigor.

Menurut Tigor, kinerja ekspor hingga saat ini masih terbilang bagus karena hingga Oktober 2022 pertumbuhannya masih di level 12,30% secara tahunan. Namun, ia mengingatkan, dengan kondisi global saat ini, tidak ada yang bisa menjamin kinerja ekspor masih bisa terus tumbuh ke depannya.

"Kita lihat sektor ekspor saat ini masih sangat baik tapi apakah ini akan baik seperti saat ini? Nah kita lihat situasi bagaimana harga minyak pangan dan komoditas lainnya," ujar Tigor.

Dari sisi perbankan sendiri sebetulnya menurut Tigor masih optimistis, tercermin dari proyeksi penyaluran kredit perbankan oleh BI pada 2023 yang masih akan tumbuh di kisaran 10-12%. Optimisme ini terjaga salah satunya karena fokus pemerintah melaksanakan kebijakan hilirisasi.

"Kita lihat secara positif hilirisasi dari tambang mineral itu ternyata memberi nilai tambah yang sangat besar buat kita. Ini modal kita untuk pertumbuhan yang baik," tutur Tigor.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Negara yang Diramal Lolos Badai Resesi, Ini Tanda-tandanya!


(mij/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading